Saya ingin memulaikan pelajaran sekolah Sabat kita dengan membaca ayat hafalan kita pada pekan ini:

Roma 13:7-8 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Ayat ini memberikan penekanan kepada kita bahwa, bila memang kita terlibat dalam satu bisnis; dimana kita harus bayar pajak, cukai, memberikan penghormatan kepada yang wajib kita hormati, tentu dalam hal ini bisa jadi atasan atau pemerintahan yang benar—kita wajib melakukan itu. Namun yang menarik! Untuk hutang—ayat ini mengatakan agar kita jangan berhutang kepada siapapun! Tidak ada ayat ini menyebutkan untuk membayar hutang! Yang ada bayar pajak, cukai dan seterusnya.. jika demikian bolehkah kita berhutang? Atau saya lebih spesifikasikan anggota gereja masehi advent hari ke-7 berhutang? Apa kata sekolah Sabat kita? We should do all that we can to avoid debt. Of course, in certain circumstances, such as buying a house or a car, building a church, or getting an education, we need to borrow money. But it must be done as wisely as possible, with the intent of getting out of the debt as soon as possible.[1] Namun sebelum kita mengambil keputusan untuk berhutang ingatlah tulisan hamba Tuhan berikut ini:

“There must be a strict regard to economy or a heavy debt will be incurred. Keep within bounds. Shun the incurring of debt as you would shun leprosy.” – Ellen G. White, Counsels on Stewardship, p. 272.[2]

Nah ini mungkin kira-kira adalah aplikasi kesimpulan terbaik yang bisa kita ambil dari pelajaran selama pekan ini. Nah saat ini mari kita lihat detailnya sehingga bisa mendapatkan kesimpulan seperti diatas. Menarik dari pelajaran sekolah sabat kita mengumampakan “pinjaman” dari  kisah berikut ini:

2 Raj. 6:5-7 Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!” Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. Lalu katanya: “Ambillah.” Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya

Saya yakin dan percaya adalah lebih baik memberi daripada menerima—atau bahkan meminjam! Tetapi satu hal  yang pasti jika kita akhirnya “terjebak[3]” untuk meminjam maka kita harus betul-betul menaruh perhatian—bahwa kita akan mengembalikannya dan ingat pinjaman itu bukan pendapatan! Perhatikan ayat berikut ini:

Mzm. 37:21 Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

Saya ingat pernah menggunakan ayat diatas untuk menjelaskan bahwa hutang itu harus dibayar karena bila tidak kita akan dianggap orang fasik—arti kata fasik adalah tidak peduli terhadap perintah Tuhan atau bisa juga percaya kepada Tuhan tetapi tidak melakukan perintah-Nya.[4] Lebih jauh lagi pelajaran sekolah Sabat kita pada hari minggu mengulangi kembali bahwa We may borrow money with the idea to use it wisely, but the temptation to spend what we have, even of borrowed money, can lead to some very difficult problems. Don’t start the bad habit of borrowing money. If you already have, pay it back as soon as possible. We must learn to spend wisely and be masters of God’s money, and not be mastered by the world’s money instead.[5] Oleh sebab itu kita wajib menahan nafsu sesaat kita! Sekolah Sabat memberikan contoh mengenai Yakub dan Esau, dimana Esau mau menjual hak kesulungannya dengan semangkuk sop kacang merah—Alkitab menyebutkan demikian:

1 Yohanes 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Ibrani 12:16-17 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.  Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Kembali kepada hutang, jangan sampai kita berhutang hanya untuk memenuhi nafsu kita! Dan adalah selalu lebih baik bila kita tidak berhutang! Itulah sebabnya pelajaran sekolah sabat kita mengajarkan untuk kita dapat menahan nafsu kita! Bahkan bukan hanya itu, kita wajib mengatur berkat-berkat yang Tuhan telah berikan untuk dapat memuliakan nama Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini dan apa yang dikatakan oleh pelajaran sekolah Sabat kita: We should think of our means not as income but as resources that we have a responsibility to manage. A budget is the method we should use to accomplish this task. Planning a budget is a learned skill that needs to be studied thoughtfully.[6]

Amsal 14:15 Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.

Amsal 21:5 Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.

Marilah kita mengatur sedemikian rupa setiap berkat-berkat yang telah Allah karuniakan bagi kita. Pak pendeta bagaimana kalau saya sekarang sudah ada utang? Demikian kata roh Nubuat..

“Make a solemn covenant with God that by His blessing you will pay your debts and then owe no man anything if you live on porridge and bread. It is so easy in preparing your table to throw out of your pocket twenty-five cents for extras. Take care of the pennies, and the dollars will take care of themselves. It is the mites here and the mites there that are spent for this, that, and the other, that soon run up into dollars. Deny self at least while you are walled in with debts. . . . Do not falter, be discouraged, or turn back. Deny your taste, deny the indulgence of appetite, save your pence and pay your debts. Work them off as fast as possible. When you can stand forth a free man again, owing no man anything, you will have achieved a great victory.” – Ellen G. White, Counsels on Stewardship, p. 257.

Rencanakanlah didalam Tuhan atas berkat-berkat yang Tuhan telah berikan kepada kita! Hindarkan berhutang dan bila saat ini ada hutang yang memang layak untuk diambil, selesaikan dan lekas-lekaslah menjadi orang bebas! Tentu untuk dapat menjadi seorang penatalayan yang baik bukanlah hal yang sehari belajar! Ini harus diulangi dan dipelajari termasuk dalam terbebas dari jerat hutang. Ada hal penting yang sekolah Sabat kita anjurkan didalam menggunakan berkat yang ada pada kita, tentu setelah mengembalikan apa  yang menjadi milik Tuhan melalui Perpuluhan dan mengatur persembahan kita.

2 Saran pelajaran Sekolah Sabat untuk mengatur berkat Tuhan.

Amsal 24:27 Aturkanlah pekerjaanmu di luar dahulu, dan sediakanlah bendangmu[7], kemudian bolehlah engkau membangunkan rumahmu. (Terjemahan lama)

Amsal 15:22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Saya ingin menutup pelajaran sekolah Sabat kita dengan kata-kata dari pelajaran sekolah Sabat kita yang mengatakan berikut ini: We can learn to be better stewards and specifically to eliminate debt while living in a materialistic world. We should always be developing our skills through reading, seminars, formal education, (whenever possible), and ultimately practice what we have learned. Growing our skills enables us to give our best to God and to be good stewards.[8] Tuhan memberkati

[1]http://ssnet.org/lessons/18a/less11.html
[2]http://ssnet.org/lessons/18a/less11.html
[3]Saya menggunakan kata ini, mengartikan bila memang sudah ini jalan akhir yang harus ditempuh.
[4]Bandingkan dengan https://kbbi.web.id/fasik
[5]http://ssnet.org/lessons/18a/less11.html
[6]http://ssnet.org/lessons/18a/less11.html
[7]Bendang = sawah/persawahan (kbbi) ; https://kbbi.web.id/bendang
[8]http://ssnet.org/lessons/18a/less11.html

geojc14

View all posts

1 comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *