Pada kesempatan kali ini kita akan melihat tanda-tanda ataupun ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang penatalayan Tuhan. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ciri atau karakter yang selayakya dimiliki oleh seorang pegawai, pelayan atau seorang yang dipercayakan satu tanggung jawab tertentu. Hanya yang membedakan adalah motivasinya. Apakah itu motivasi dari seorang penatalayan Tuhan? sekolah Sabat kita menyatakan demikian: The more these qualities are studied, the deeper they will be ingrained in our lives. God’s character of love, in all its dynamics, will become our brand and have an influence on every aspect of our lives, today and eternally.[1] Semakin dalam kita mempelajari menjadi seorang penatalayan semakin mengerti kita akan kasih Kristus yang menjadi motivasi kita untuk menjadi seorang penatalayan. Seperti yang dituliskan dalam ayat hafalan kita:

1 Korintus 4:1-2 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.

Dalam ayat hafalan kita telah mempelajari memang ada rahasia-rahasia Allah yang tidak dapat dimengerti, tetapi ada juga yang dibukakan bagi kita. Bagi kita yang telah mengerti kita dipanggil untuk meberitakannya dengan jujur akan kasih dan firman Tuhan, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Tuhan, sehingga nyata bahwa kita dapat dipercaya. Mari kita lihat tanda-tanda yang akan kita pelajari. Apakah tanda-tanda itu? With Christ at the center of our being, we are open to His guidance. As a result, our faith, loyalty, obedience, clear conscience, trustworthiness, and individual accountability[2] will be revealed in our lives. Thus, as stewards, we are made complete in the hands of God (Ps. 139:2324).[3] Mari kita lihat secara sekilas hal-hal yang sangat penting untuk kita. Minimal ada enam hal yang akan kita pelajari pada hari ini, itu adalah : kesetiaan, loyalitas, hati nurani yang bersih, penurutan, dapat dipercaya, akuntabilitas pribadi. Mari kita lihat satu persatu.

1. Kesetiaan : In Hebrew “faithful” means to trust. The same Hebrew root gives us the word “amen,” and it really means to be “solid” or “firm.” Faithfulness means we have been tested and tried, and have remained firmly committed to God’s plan.

Saya masih mengingat ketika sekolah dulu ada istilah setia = segala tipu ada tapi kita tidak diajarkan untuk seperti itu. Kesetiaan yang dimaksud disini adalah benar-benar percaya dengan sungguh-sungguh dan melakukan apa yang menjadi rencana Allah. Alkitab menuliskan sebagai berikut:

1 Timotius 6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Kata rebut disini bukanlah karena usaha kita, kita bisa selama tetapi itu mengindikasikan kepada kita kesungguh-sungguhan kita untuk mau menerima pangilan keselamata itu. Setia melakukan firman Tuhan karena sudah diselamatkan.

2. Loyalitas : Knowing that God’s name means “jealous” ( 34:14)should give us a clarion call for loyalty. Loyalty to a “jealous” God is loyalty in love. In the fight of faith, loyalty helps define who we are and encourages us to stay in the battle.

Dalam KBBI loyalitas itu berarti kepatuhan; kesetiaan. Hampir sama dengan faithfulness. Loyalitas adalah bukti kasih kita kepada Tuhan. Sekolah Sabat kita menuliskan Loyalitas, seperti kasih, harus bebas diberikan, atau itu bukan loyalitas sejati.[4]

3. Hati nurani yang bersih : There are many precious things that we can possess. Health, love, friends, a great family – these all are blessings. But perhaps one of the most important of all is a clear conscience. Saya ingin membahas hal ini melalui ayat berikut ini:

Mazmur 40:9 aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.

Hukum Allah haruslah diperkenalkan terlebih dahulu, kita mengerti maksud tujuan Allah setelah itu kata hati kita bisa dibersihkan. Hanya melalui kuasa Firman Tuhan, kita wajib menyelerskan dengan kerinduan hati kita, bukan sebaliknya!

4. Penurutan : We don’t obey to be saved; we obey because we already are saved. Obedience is the practical statement of a moral faith. Samuel told Saul, “Has the LORD as great delight in burnt offerings and sacrifices, as in obeying the voice of the LORD? Behold, to obey is better than sacrifice, Andto heed than the fat of rams” (1 Sam. 15:22, NKJV).

Kita menuruti perintah Tuhan bukan supaya selamat tetapi karena kita selamat. Itulah pembuktian yang kita lakukan, bukan kepada Tuhan, tetapi kepada setiap orang yang ada disekitar kita. Sehingga semakin banyak yang melihat kepada kita dan memuliakan Bapa yang disurga.

5. Dapat dipercaya : “We are to be faithful, trustworthy subjects of the kingdom of Christ, that those who are worldly-wise may have a true representation of the riches, the goodness, the mercy, the tenderness, and the courtesy of the citizens of the kingdom of God.” – Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 6, p. 190.

Tentu ini juga adalah karakteristik  yang selalu diinginkan oleh seorang owner kepada manjernya. Seorang manajer yang dapat dipercaya. Daniel tetap dapat dipercaya, Ia tetap berdiri teguh kepada prinsipnya walaupun kematian mengancam hidupnya. Kualitas ini tidak muncul dalam semalam tetapi datang dari waktu ke waktu dengan menjadi setia bahkan dalam perkara-perkara kecil.[5]

6. Akuntabilitas pribadi : Individual accountability is an essential biblical principle. While on earth, Jesus was individually accountable to the Father (John 8:28).We are accountable for every idle word ( 12:36). “For everyone to whom much is given, from him much will be required”(Luke 12:48, NKJV).

Kita harus dapat bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan bagi kita. Bukan hanya kepada hal materi tetapi bagaimana dengan keluarga kita? Anak-anak, suami, istri, sahabat sudahkah kita membawa kepada Yesus. Bagiamana dengan firman Tuhan yang sudah dibukakan bagi kita, apakah kita sudah membagikannya. Tuhan kiranya menolong kita untuk menjadi penatalayan-penatalayan yang sejati. Tuhan memberkati.

[1]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less06.html
[2]Arti dari Accountability – keadaan yang dipertangung jawabkan
[3]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less06.html
[4]Pelajaran sekolah Sabat, 5 Februari 2018, hlm. 67
[5]Pelajaran sekolah Sabat, 8 Februari 2018, hlm. 70

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *