Surat Paulus kepada jemaat Galatia dalam arti luas juga menunjukkan betapa pentingnya doktrin yang benar.[1] Kita melihat bagaimana kerasnya tulisan-tulisan Paulus kepada jemaat Galatia—kali ini, kita akan melihat lebih dekat apa yang menyebabkan Paulus begitu keras dalam tulisan-tulisannya kepada jemaat Galatia, dengan melihat kepada kitba Galatia 4:11-20

Langsung saja, benar alasan kerasnya Paulus kepada jemaat galatia adalah karena Paulus menganggap dirinya sebagai orang tua kepada jemaat Galatia—Ia menganggap dirinya lebih daripada sekedar teman; dia adalah bapa rohani mereka, dan mereka adalah anak-anaknya.[2] Perhatikan dua ayat berikut ini:

 Galatia 4:11-12 Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia. Aku minta kepadamu, saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab aku pun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu.

Paulus benar-benar mengkawatirkan anak-anak Rohaninya, jemaat yang telah dengan susah payah ia bangun. Kata Aku minta kepadamu—Deomai—terjemahan yang tepat adalah “aku mohon dengan sangat kepadamu.”[3] Belum lagi ayat yang berikut ini:

 Galatia 4:19 Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.

Luar biasa, ketika saya membaca ayat-ayat ini.. saya berfikir luar biasa Paulus—sebagai seorang gembala—saya jauh dari apa yang Paulus sudah buat untuk jemaat-jemaat. Dia sayang kepada jemaat-jemaatnya dan inila yang mengharuskan dia untuk berkata keras kepada anak-anak yang dikasihinya.

Kedua yang menarik adalah mengapa paulus menyuruh mereka menjadi seperti dia? Toh kan Paulus juga sudah menjadi seperti mereka? Apa maksud ayat ini?—Galatia 4:11-12 kita temukan dalam tulisan-tulisan Paulus yang lain, kita sering melihat ajakan dari Paulus untuk menjadi seperti dia… contohnya:

 2 Tesalonika 3:7-9—Paulus meminta agar orang-orang tesalonika mencontoh kehidupannya dalam bekerja mencari nafkah dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

1 Korintus 11:1—Paulus meminta orang korintus untuk mencontoh kehidupannya dalam mengutamakan kesejahteraan orang lain.[4]

Galatia 4:12—Paulus meminta untuk mencontoh kehidupannya “menjadi seperti dia” bahkan “dia sudah menjadi sama seperti mereka”—dalam hal keagaamaan.

Paulus telah menjadi sama seperti orang-orang galatia dalam “meninggalkan” adat-istiadat Yahudi dan mengarahkan kepada mereka pentingnya Yesus dalam aspek kepercayaan atas janji keselamatan itu—bukan hukum Allah! Tapi jangan lupa apa hukum Allah penting? Yes, sangat penting—tetapi bukan yang menyelamatkan. Ingat bukan berarti tanpa hukum! Lagipula dalam tulisan-tulisan Paulus kebebasan yang ditawarkan olehnya, bukanlah kebebasan dengan gaya hidup tanpa  hukum.[5] Paulus memohon kepada mereka yang sekali waktu pernah hidup di dalam kuasa Allah, untuk kembali kepada kasih mereka yang semula atas Injil kebenaran.[6]

Untuk saat ini apa yang dilakukan oleh Paulus “menjadi sama seperti mereka” adalah apa yang bisa kita kenal saat ini dengan istilah KONTEKSTUALISASI itu tidak selalu mudah, “sejauh kita mampu memisahkan jantung Injil dari kepompong budayanya, untuk mengkontekstualisasikan pekabaran Kristus tanpa mengorbankan isinya, kita juga harus menjadi peniru Paulus.—Timothy George, Galatians, hlm. 321, 322

Yang kedua yang kita bisa kita ketahui dari Galatia 14 ini adalah bahwa rupanya memberitakan injil di Galatia bukanlah niat awal Paulus.[7]—Paulus berada di Galatia karena sakit, ada yang mengatakan sakit malaria, tetapi kemungkinan besar adalah penyakit mata—yang Paulus gambarkan sebagai duri dalam daging.

Galatia 4:13-14 Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku. Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.

Kenapa disebut “pencobaan bagi kamu”—bisa saja keadaan Paulus waktu itu membuat pekabarannya tidak dipercaya, khotbah kesembuhan—tapi sakit-sakitan! Tapi Injil Yesus itu telah menghangatkan hati orang-orang galatia pada waktu itu—kuasa Yesus saja yang meyakinkan mereka! Bukan kuasa Paulus. Apakah Paulus tidak pernah meminta kesembuhan dari Yesus??

2 Korintus 12:7-9 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Kita yang melayani Tuhan, kita semua, janganlah kita khwatir dengan kelemahan dan kekurangan yang ada pada kita! Bahkan mungkin kegagalan-kegagalan yang anda alami—karena dalam kelemahan dan kegagalan kita, asal kita mau datang kepada Yesus—maka Tuhan yang akan menyempurnakan. Tuhan memberkati

[1]Pelajaran Sekolah Sabat, hari Sabat Petang, 19 Agustus 2017, hlm. 101

[2]Hari minggu 20 Agustus 2017, hlm. 102

[3]Hari minggu 20 Agustus 2017, hlm. 102

[4]Disadaur dari hari senin 21 Agustus 2017, hlm. 03

[5]Hari selasa 22 Agustus 2017, hlm. 104

[6]Pelajaran sekolah Sabat, hari jumat 25 Agustus 2017, hlm. 107

[7]Pelajaran sekolah Sabat, Hari rabu 23 Agustus 2017, hlm. 105

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *