Pekan ini kita akan melihat akan “perubahan” hukum yang telah terjadi khususnya pada hukum yang ke-4. Seperti yang dikatakan dalam ayat hafalan kita:

Daniel 7:25 Ia[1] akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.

Dari ayat inilah pelajaran ini diambil, mengubah waktu dan hukum. Seperti pada pelajaran yang sebelumnya kita “kita memahami bahwa keselamatan adalah oleh karena iman saja dan memelihara hukum, termasuk sabat, tidak pernah dapat membawa kepada keselamatan, kita juga memahami bahwa pada akhir zaman, penurutan kepada hukum Allah, termasuk Sabat hari ketujuh, akan menjadi tanda lahiriah, tanda, kesetiaan kita, di mana kesetiaan kita yang benar terletak.[2] Seblumnya kita perlu mengulangi dasar yang penting dalam mempelajari hukum Allah ini, sesuai dengan pelajaran kita mari kita melihat ayat berikut ini:

Roma 8:1-2 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. 

Ayat ini memberikan satu penegasan kepada kita dengan sangat jelas, bahwa bukan hukum yang ditiadakan oleh Yesus ataupun didalam Yesus, tetapi penghukuman itu sendiri yang ditiadakan—bagi mereka yang ada dalam Yesus! Artinya hukum itu tetap ada, tetapi dalam Yesus ada kasih karunia—tidak dihukum! Kenapa? Karena jika hukum itu ditiadakan maka bukan penghukuman yang tidak ada tetapi, kesalahan itu tidak akan ada! Dan bila kesalahan tidak ada maka kita tidak perlu penebus, kita tidak perlu juruselamat dan artinya kita tidak perlu Yesus! Tetapi karena dosa, karena ada hukum, maka kita, Nasrani, umat Kristen percaya didalam Yesus tidak ada penghukuman—tetapi hukum itu tetap ada! Dan selama-lamanya harus ada! Jelas bahwa dalam Roma 7:15-25—Bagi Paulus, masalahnya bukanlah hukum; masalahnya adalah daging kita.[3] Hukum itu telah menunjukkan apakah dosa itu dan bukan hukum itu yang membawa kematian tetapi dosa itulah yang membawa kematian bagi kita. Perhatikan ayat ini:

Roma 7:13 Jika demikian, adakah yang baik[4] itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

Seperti  yang dituliskan dalam pelajaran sekolah Sabat kita: Hukum tidak menghasilkan kematian; sebagaimana dosa. Hukum menunjukkan betapa mematikannya dosa itu. Hukum itu baik, menunjukkan dosa. Hanya saja Hukum tidak memiliki jawaban atas dosa. Hanya injil yang memiliki jawaban atas dosa.[5] Jadi jelas bahwa hukum memang tidak memiliki jawaban atas dosa—artinya hukum tidak menyelamatkan, tapi Sang pembuat hukum itulah yang menyelamatkan! Namun demikian keberadaan hukum itu, 10 hukum Allah, tidak pernah dirubah dan digantikan yang tentu termasuk didalamnya adalah hukum ke-4, ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Saya ingin membacakan beberapa ayat yang menjadi pelajaran kita menunjukkan bahwa ayat-ayat berikut ini adalah tidak tepat bila kita gunakan dasar sebagai pengudusuan selain hari Sabat.

Yohanes 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Kis 20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

Kis 2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

1 Korintus 16:1-4 Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu. Kalau ternyata penting, bahwa aku juga pergi, maka mereka akan pergi bersama-sama dengan aku

Hari Sabat tidak pernah berubah berikut perhatika ayat-ayat yang ada dalam kitab Perjanjian baru:

Lukas 4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Lukas 23:55-56 Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

Kis. 13:13-14 Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ

Kis. 18:4 Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.

Alkitab tidak pernah menunjukkan adanya perubahan akan hukum Allah, khususnya 10 hukum Allah—yang didalamnya terdapat Hukum ke-4, Hari Sabat tidak pernah dirubah! Kalau demikian siapa yang merubahnya? Ingat ayat hafalan kita dalam Daniel 7:25 tanduk kecil, Sekolah Sabat kita menuliskan demikian: “Meskipun rincian yang pasti tidak jelas dalam sejarah, kita mengetahui bahwa di bawah Roma Kepausan Sabat hari ketujuh telah digantikan dengan tradisi pemeliharaan hari Minggu, satu tradisi yang tertanam kuat sehingga Protestan Reformasi tetap memeliharanya, sampai kepada abad dua puluh satu. Hari ini kebanyakan orang-orang Protestan masih memelihara hari pertama dalam pekan, gantinya mengikuti hukum Alkitab yaitu hari ketujuh.”[6] Saya ingin menutup pelajaran sekolah Sabat kita dengan apa yang Ellen G. White tuliskan:

“Dalam hukum keempat, Allah dinyatakan sebagai Khalik, pencipta langit dan bumi, yang dengan demikian membedakannya dari semua allah-allah palsu. Hari Sabat itu adalah sebagai peringatan kepada pekerjaan penciptaan, dan hari ketujuh itu telah disucikan sebagai hari istirahat kepada manusia. Hari Sabat itu dirancang agar Allah yang hidup itu selalu berada di dalam pikiran manusia sebagai sumber segala sesuatu dan tujuan dari penghormatan dan perbaktian. Setan berusaha keras untuk membalikkan manusia itu dari kesetiaannya kepada Allah dan dari penurutannya kepada hukum-Nya. Itulah sebabnya ia mengerahkan usahanya terutama menentang hukum yang menunjuk kepada Allah sebagai Khalik.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 56.[7]

Tuhan memberkati!

[1]Ia disini adalah tanduk kecil  yang menjadi besar yang punya mata dan mulut yang menyombong, yang lain dari tanduk-tanduk yang sisa (7 tanduk  yang lain), karena munculnya tanduk kecil ini telah mencabut ketiga tanduk sebelumnya.

[2]Sabat petang, 5 Mei 2018, hlm. 65
[3]Minggu, 6 Mei 2018, hlm. 66
[4]Gantikan dengan kata hukum
[5]Senin, 7 Mei 2018, hlm. 67
[6]Kamis, 10 Mei 2018, hlm. 70
[7]Jumat, 11 Mei 2018, hlm. 71

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *