Saya ingin memulaikan pelajaran sekolah Sabat kita dengan satu kenyataan yang sangat luar biasa itu adalah Tuhan kita adalah Tuhan yang maha pemberi perhatikan 3 ayat berikut ini:

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Lukas 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

Tiga ayat diatas mengaris bawahi pelajaran sekolah Sabat kita bahwa kita memberi kepada gereja, orang lain, keluarga dan lain sebagainya adalah bukan supaya kita dapat diberi lagi oleh Tuhan tetapi karena Tuhan sudah lebih dahulu memberi kepada kita! Kita sudah lebih dahulu merasakan akan kebaikan Tuhan, kasihnya-melalui Yesus Kristus, tuntunan-Nya melalui Roh kudus dan firman Tuhan serta keselamatan yang diberikan oleh Allah. Seperti yang dikatakan oleh pelajaran sekolah sabat kita: Giving God the best shows that we put Him first in our lives. We don’t give offerings in order to receive favors; instead, we give what we have out of gratitude for what we have been given in Christ Jesus.[1] Pelajaran sekolah Sabat kita mengutip satu ayat dalam Matius 6:19-21 yang menyebutkan demikian:

Matius 6:19-21 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Kalau saya simpulkan ayat ini mengatakan bahwa kalau simpan harta dibumi ada ngengat, karat, pencuri—artinya tidak bertahan lama. Bahkan jika kita katakan “simpan baik-baik” tetapi ingat batas umur kita didunia ini sangat terbatas. Tetapi menyimpan dalam kerajaan surga—harta yang tak dapat diambil dari kita! Everlasting.. kita harus ada motivasi.. yaitu dimana hartamu, disitu hatimu.. apakah yang menjadi harta utama kita? Surga atau dunia? Sekolah Sabat kita dengan sangat baik menjelaskan demikian: Professing belief in God but keeping our treasure here on earth is hypocritical. Our actions must agree with our words. In other words, we see our treasures on earth by sight, but we must see our offerings as treasures in heaven by faith (2 Cor. 5:7). Though we, of course, need to be practical and provide for our needs (even retirement), it’s crucial to always keep the big picture, eternity, in mind.[2]—ingat ini semua kita lakukan karena motivasi kita adalah karena kasih karunia Tuhan, karena telah merasakan pemberian dari Tuhan yang sangat luar biasa, seperti yang sudah dirasakan oleh Maria yang telah membasuh kaki Yesus dengan air mata dan parfum yang mahal itu. Lukas 7:37-47[3]—motivasi dari mari adalah rasa ucapan syukur.

Lukas 7:43, 47 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Sebenarnya ayat diatas bukan menyatakan Tuhan memberikan pengampunan dengan sedikit-sedikit atau berbeda-beda! Tidak! Tapi perasaan kita, motivasi kita, yang menentukan bagaimana besarnya kasih Allah bagi kita. ketika Maria merasakan pengampunan itu adalah luar biasa efeknya bagi kehidupannya, semakin ia merasa sukacita didalam memberikan apa yang terbaik dari yang dimilikinya saat itu. Seperti  yang disebutkan oleh Ellen G. White:

“Entire devotion and benevolence, prompted by grateful love, will impart to the smallest offering, the willing sacrifice, a divine fragrance, making the gift of priceless value. But, after willingly yielding to our Redeemer all that we can bestow, be it ever so valuable to us, if we view our debt of gratitude to God as it really is, all that we may have offered will seem to us very insufficient and meager.- Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 3, p. 397.

Hanya dengan melihat kepada Yesus maka kita dapat memberikan yang ada pada kita—yang terbaik dan terus menjadi terbaik. Seperti yang dinyatakan dalam Alkitab, kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan, sesuai dengan bagaimana kita merefleksikan kasih Allah dalam hidup kita.

2 Korintus 9:6-7 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Ayat ini jangan kita baca, sebagai cara seorang pendeta atau hamba Tuhan untuk meningkatkan “income” ataupun pendapatan untuk gereja! Bukan tetapi ini memang fakta—kita tidak pernah dipaksa untuk memberi, tidak boleh dengan sedih hati—tetapi Allah mau kita memberi dengan sukacita, bersyukur dan bergembira atas apa yang telah kita dapatkan, kita rasakan dan terlebih khusus atas keselamatan yang telah diberikan oleh Allah. Toh tiga ayat yang saya baca diatas tadi, membuktikan bahwa Allah kita telah memberikan segala yang terbaik kepada kita! Dan kita memberi karena kita telah merasakan kasih Allah, merefleksikan tabiat ataupun karakter sebagai anak-anak Allah. Intinya datang kepada satu kata: Kasih. Dan kasih tidak dapat diwujudkan tanpa penyangkalan diri, kesediaan untuk memberikan diri sendiri, bahkan dengan pengorbanan, untuk kebaikan orang lain.[4] Saya ingin menutup pelajaran sekolah Sabat kita dengan kutipan dari hamba Tuhan Ellen G. White yang menyatakan sebagai berikut:

“The cross of Christ appeals to the benevolence of every follower of the blessed Saviour. The principle illustrated is to give, give. This carried out in actual benevolence and good works is the true fruit of the Christian life. The principle of worldlings is to get, get, and thus expect to secure happiness; but carried out in all its bearings, the fruit is misery and death.”—Ellen G. White, in Advent review and Sabbath Herald, Oct. 17, 1882.[5]

Mari kita memberi dengan penuh kasih, tanpa paksaan, karena hidup ini juga adalah pemberian dari Tuhan. Tuhan memberkati.

[1]https://ssnet.org/lessons/18a/less09.html
[2]https://ssnet.org/lessons/18a/less09.html
[3]Ilustrasi Yesus kepada Simon, kepada orang Farisi yang tidak senang melihat Maria membasuh kaki Yesus dengan air mata dan buli-buli minyak wangi yang mahal, ilustrasi tentang Hutang 500 dinar dan 50—dihapuskan, siapa yang paling bersyukur?
[4]Pelajaran sekolah Sabat, Rabu 28 Februari 2018, hlm. 105
[5]Pelajaran sekolah Sabat, english, Friday 2 March 2018, p. 67

geojc14

View all posts

1 comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *