Pelajaran Sekolah Sabat, Pelajaran 9, 25 – 31 Agustus 2018
 
PERJALANAN MISIONARIS YANG KEDUA
(The Second Missionary Journey)
 
Ayat tema :
“Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini” – Kisah 18:9, 10
 
Keterangan Pendahuluan
Ayat diatas merupakan penegasan (garansi) penyertaan Allah bagi Paulus, yang saat itu baru saja mengalami pengalaman yang buruk berhadapan dengan orang-orang Yahudi (sesama bangsanya) yang ada di Korintus, setelah Paulus memberitakan tentang Yesus kepada mereka
 
Perjalanan ke Korintus, merupakan salah satu tempat yang dikunjungi Paulus pada perjalanan misinya yang kedua, sekitar tahun 49-52 atau setelah peristiwa Konsili atau musyawarah di Yerusalem.  Catatan Alkitab menyebutkan bahwa Paulus akhirnya tinggal di Korintus selama 1,5 tahun. 
 
PENDAHULUAN (PERSOALAN PATNER PELAYANAN)
Dalam perjalanan misinya yang kedua ini, Paulus kembali ke Antiokhia dari Yerusalem, tempat dimana acara Musyawara Gereja diadakan.  Dia kembali bersama Barnabas dan sempat mereka bersama-sama dalam pelayanan di tempat itu, tetapi justru inilah menjadi tempat terakhir kebersamaan Paulus dan Barnabas. Mengapa? Disinilah sisi manusiawi diungkapkan sangat jelas oleh Lukas. 
 
Persoalannya, Barnabas ingin membawa keponakannya, Yohanes Markus dalam perjalanan mereka bersama ini, padahal seperti yang sudah dibahas yang lalu, Yohanes Markus ini sempat meninggalkan kedua orang ini sebelumnya, sehingga sikapnya ini mendatangkan keraguan dan ketidak percayaan Paulus.  Paulus menolak keberadaan Yohanes Markus. Dan penolakan Paulus ini menimbulkan ketidak senangan Barnabas.  Alkitab cukup terbuka mengatakan,
 
(15:39) “Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam” (NKJV“Then the contention became so sharp that they parted from one another.”)
 
Akhirnya pelayanan berlanjut dengan pasangan yang berbeda, Paulus bersama Silas dan Barnabas bersama Yohanes Markus.  Kedua pasang itu melayani di daerah terpisah tetapi jangkauan mereka menjadi luas. 
 
“Terkadang persoalan manusia, bisa diarahkan Tuhan untuk sebuah gagasan dan solusi yang baru”
 
Ingat, Paulus meninggalkan Yohanes Markus, seorang penginjil muda, tetapi dalam perjalanan menuju ke Derbe dan Listra, dia justru menemukan permata muda lainnya, dalam diri seorang Timotius.  Dari latar belakangnya yang merupakan percampuran ayah Yunani dan ibu Yahudi, Timotius di informasikan sebagai pemuda yang baik dan rohani, hanya sayang tidak bersunat layaknya seorang Yahudi umumnya. 
 
Ada yang menarik disini, bukankah Paulus adalah seorang yang selalu menyatakan bahwa sunat bukan lagi suatu syarat bagi keselamatan seseorang.  Bagi Dia, sunat bukan lagi persoalan sangat penting. Tetapi justru dalam kasus Timotius ini, Paulus menyuruhnya menyunatkan dirinya dulu, baru mengikutinya. Mengapa? Apakah sunat itu masih dianggap penting? Apakah Paulus berlawanan dengan konsep pribadinya tentang keselamatan hanya oleh iman? Bukan! Disini sunat bukanlah masalah keselamatan sehingga Paulus menyuruh Timotius untuk disunat, tetapi ini hanyalah sebagai alasan praktis.atau lebih tepat disebutkan hanya karena alasan tata karma, sopan santun menghargai budaya Yahudi
 
Karena nanti, Timotius akan pergi mengajar bukan hanya orang-orang non Yahudi saja, tetapi juga dia akan mengajar orang-orang Yahudi juga.  Akan sangat riskan, ketika Timotius berdiri di tempat-tempat ibadah Yahudi, mengajar disana, sementara dia belum di sunat.  Orang Yahudi, sangat melarang orang-orang yang tidak bersunat untuk mengambil bagian bahkan masuk kedalam rumah-rumah ibadat mereka. 
 
Sehingga dalam kasus ini, bukan masalah ajaran yang sedang di titik beratkan oleh Paulus, tetapi Paulus lebih menitik beratkan pada soal etika atau tata-krama budaya yang harus dihormati.
 
PERJALANAN KE DAERAH ASIA
Kembali lagi setelah perjalanannya yang pertama, Paulus melintas daerah Derbe dan Listra, yang merupakan daerah Galatia, dalam perjalanan kedua, Paulus pun melewati daerah-daerah ini, memberi kesan bahwa Paulus bukan hanya Pioneer yang membuka ladang baru, tetapi juga dia adalah seorang Gembala, yang memelihara jemaat dengan baik. 
 
Nampaknya rencana semula Paulus dan Silas, hanya mengunjungi daerah seputaran Asia (waktu itu) dimana paling jauh adalah daerah Misia, dimana kota Troas dan Efesus adalah daerah paling barat dari Asia (lihat Gambar 2). 
 
Tapi disinilah rancangan manusia, bukan rancangan dan rencana Tuhan.  Manusia bisa mengira-ngira dan membuat rencana perjalanan, tapi Tuhan-lah yang menentukan. Tidak semua daerah Asia diijinkan Tuhan untuk dijangkau.  Kalimat Alkitab mengatakan demikian,
 
(16:6) “Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia
 
Ada hal yang menarik disini kalau diperhatikan, sehebat-hebatnya Paulus dan Rasul-rasul yang lain, mereka selalu bergantung pada Roh Kudus.  Jadi boleh dikatakan, Roh Kuduslah yang membuat kemajuan dan menentukan arah evangelisasi gereja. 
 
Alkitab selanjutnya berkata (16:7) “setibanya di Misia (daerah paling ujung Asia, pada waktu itu.  Sekarang telah menjadi bagian dari negara Turki), mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi ROH YESUS tidak mengijinkan mereka.” 
 
Ini memberi kesan bahwa, kemajuan Kekristenan, bukan karena kehebatan seorang Paulus atau manusia lainnya, tetapi karena tuntunan dan arahan Roh Kudus semata-mata. Dan para Rasul, tidak mengikuti kata hati mereka, tetapi selalu mengikuti petunjuk Roh Kudus.
 
PERJALANAN KE DAERAH EROPA
Ayat selanjutnya dari buku Kisah 16:9,10, mengatakan bahwa Paulus mendapatkan penglihatan dimana ada panggilan dari Makedonia.  Nah Makedonia ini adalah daerah Eropa (lihat peta, gambar 2) Berbicara Eropa saat itu tentu sangat berbeda dengan Eropa hari ini.  Khususnya di daerah Makedonia, banyak orang miskin.  Tidaklah heran Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus (lihat 2 Kor 8:1,2) , dia menyatakan bahwa Jemaat Makedonia, selain banyak menderita juga adalah orang-orang yang sangat miskin, tapi kelebihan mereka adalah mereka adalah orang-orang yang murah hati.
 
Paulus bisa menolak panggilan itu, tapi disinilah kita melihat siapa Paulus, seorang Misionaris sejati, yang tidak memilih-milih tempat, tidak menolak sebuah panggilan untuk melayani di daerah susah, dan butuh pengorbanan.
 
Panggilan ke Makedonia, bukan hanya untuk menginjil, tetapi panggilan untuk memperhatikan mereka-mereka yang miskin, susah dan perlu pertolongan.  Buku SDA BC Vol 6, hal 327, memberi istilah “The Macedonian call.” Hari ini sadarkah kita di tengah kesibukan kita, ditengah kemapanan hidup kita dan berkat-berkat yang Tuhan telah beri, akan selalu ada panggilan “The Macedonian call” panggilan untuk melayani orang-orang yang membutuhkan. 
 
Di Makedonia, ada 3 kota utama yang dikunjungi Paulus yakni di FilipiTesalonika dan di Berea.  Ada catatan penting yang perlu di perhatikan disini, kembali lagi kita temukan bahwa Paulus adalah seorang yang benar-benar memperhatikan Sabat. Pada hari Sabat, di kota yang baru mereka kunjungi, ia tetap mencari komunitas yang sama-sama menguduskan Sabat, yang notabene waktu itu hanyalah orang-orang Yahudi, Paulus menginjil tapi juga ia beribadah disana.  Di Filipi ini, Paulus dan Silas mendapatkan masalah sehingga mereka ditangkap tapi Tuhan membuat mujizat begi mereka. Dan singkat cerita, di dalam penjara itu juga Paulus dan Silas mengajar dan kepala Penjara dan kembali mereka mengajarkan tentang Yesus Kristus. 
 
Perhatikan disana ada proses belajar (16:32), “mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya (kepala Penjara) dan kepada semua orang yang ada di rumahnya” dan kemudian baptisan (16:33) “seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis”
 
Sekeluarga mereka dari Penjara, mereka langsung meninggalkan Filipi dan berangkat ke Tesalonika, ibu kota Makedonia
 
Di Tesalonika, kembali Paulus dan Silas pada hari Sabat, bahkan disebutkan 3 Sabat berturut-turut (17:2).  Mereka mengajar disana dan berbakti.  Tetapi kembali muncul masalah dari kalangan orang Yahudi.  (17:5) menyebutkan, “Tetapi orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu.”  (karena iri hati mereka gunakan preman untuk melakukan kekerasan).
 
Sehingga Paulus dan Silas terpaksa keluar dari kota itu dan menuju ke Berea, kira-kira, 70 Km dari Tesalonika. Nah di Berea ini Alkitab menyebutkan demikian (17:11), “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonikakarena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”
 
Sayangnya keadaan ini tidak berlangsung lama karena kembali masalah datang dari orang Yahudi, mereka menghasut orang-orang itu sehingga terpaksa, Paulus dan Silas harus perpindah ke tempat lain. 
 
DI ATHENA
Dan tibalah mereka di kota Atena, pusat peradaban Yunani Kuno.  Banyak patung-patung indah yang disembah disana dan penyembahan berhala begitu dominan di tempat itu. Paulus yang biasanya menjangkau orang-orang Yahudi terlebih dahulu, sekarang menggantikan metode nya.  Ia pergi ke kalangan orang-orang Yunani, bahkan di undang berbicara di Areopagus, gedung dewan kota. 
 
Alkitab menyebutkan (17:18) “Beberapa ahli piker dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan Paulus”
 
Sedikit latar belakang tentang kaum Stoa dan Epikuros ini:
 
Stoisisme
adalah salah satu aliran atau mazhab filsafat Yunani-Romawi yang didirikan tahun 108 SM di Athena oleh Zeno dari Citium dan memperluas pengaruhnya dalam Kekaisaran Romawi. Penekanan ajaran mereka adalah  disiplin pribadi dan Kontrol diri (Self-Control).  Bagi mereka, kesenangan bukanlah sesuatu yang baik dan penderitaan bukanlah sesuatu yang jahat atau buruk.  Mereka menolak adanya pertolongan Allah, tapi benar-benar menghargai upaya manusia untuk mendapatkan kepuasan hidup. Mereka sangat mementingkan apa yang disebut ETOS dan ETIKA dalam kehidupan.  Mereka sangat memperhatikan dan selalu berusaha mengendalikan emosi mereka dengan baik.  Mereka percaya bahwa manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang bijaksana, dan bisa menahan penderitaan secara tenang, dan berbuat kebajikan akan membawa kebahagiaan hidup
 
Epikureanisme
adalah sistem filsafat yang didasarkan pada ajaran Epikuros dan didirikan sekitar 370 SM. Paham Epikuros ini selalu menekankan pada materi dan kesenangan Pribadi (Hedonis).  Bagi mereka kebenaran itu diperoleh melalui pengalaman pribadi seseorang dan bukan melalui konsep pikiran orang lain. Dan Tujuan hidup mereka adalah bagaimana supaya hidup “Menyenangkan” (Hedonis). Mereka itu Atheis, tidak percaya Allah manapun.  Bagi mereka yang terpenting dari hidup ini adalah hidup damai, bebas dari rasa takut dan rasa sakit dan berbahagia
 
Kaum Epicurus menekankan “Kenikmatan hidup” sedangkan kaum Stoisisme menekankan “bertahan hidup” tapi Paulus mengajarkan bagaimana hidup di dalam iman kepada Yesus dan percaya bahwa segala sesuatu bersumber dan berasal dari Yesus Kristus, Yesus itu adalah Allah yang maha kuasa, yang tidak diciptakan oleh manusia dan bisa digambarkan oleh Bahasa manusia.  Yesus itu yang bisa membuat kehidupan dan bisa membuat manusia bertahan hidup, tetapi juga menikmati kebahagiaan hidup di dalam Yesus.
 
Perhatikan cara dan isi pidato Paulus (17:22-31), berbeda dengan di tempat-tempat sebelumnya dia masuk dengan cara berpikir orang-orang Yunani.  Tapi saat Paulus tiba pada konsep kebangkitan orang mati, mereka mengejek Paulus. Mengapa? Pertama, sebagian percaya bahwa, jika tubuh mati, maka tubuh itu tidak pernah bangkit fisiknya.  Kedua, sebagian juga percaya kepada doktrin “Kebakaan jiwa” dimana mereka percaya bahwa orang yang sudah mati itu, hanya tubuhnya yang mati tapi jiwanya tetap hidup, tapi dalam wujud yang berbeda. 
Mereka juga tidak pernah percaya bahwa Allah itu peduli dengan keadaan manusia, bahkan akan membangkitkan orang mati. TAPI walaupun demikian, ada orang yang menerima pekabaran Paulus dan percaya.
 
DI KORINTUS
1.     Terangkan bahwa Akwila dan Priskila adalah pasangan Kristen dari Roma yang di deportasi pada zaman pemerintahan Pontus.
2.     Sama-sama bekerja sebagai tukang tenda
3.     Terangkan tentang (18:4) Paulus beribadah setiap Sabat di rumah Ibadat (band dengan Lukas 4:16, Yesus memiliki kebiasaan untuk beribadah di rumah Ibadah)
4.     Kembali lagi di Korintus ini, orang Yahudi membuat masalah, tetapi selalu saja, di kota mana Paulus singgah, tetap ada orang yang menerima kebenaran.
 
Dan ayat tema kita minggu ini
Ayat tema :
“Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini” – Kisah 18:9, 10
 
Keterangan
Ayat diatas merupakan penegasan (garansi) penyertaan Allah bagi Paulus, yang saat itu baru saja mengalami pengalaman yang buruk berhadapan dengan orang-orang Yahudi (sesama bangsanya) yang ada di (bukan hanya) di Korintus saja, tapi Filipi, sampai dia dipukul, dipenjarakan, di Tesalonika dia dikejar, di Berea dia terpaksa keluar kota itu, karena takut serangan orang Yahudi,  setelah Paulus memberitakan tentang Yesus kepada mereka.
 
Dan Firman Tuhan itu menguatkan Paulus, dia tinggal akhirnya di sana 1,5 tahun, sebelum gubernur berganti disana.
 
Dalam perjalanan Paulus kembali ke Antiokhia, Paulus tetap mengajar memberitakan injil keselamatan. 
 
PENUTUP
Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dari pelajaran pekan ini
1.     Serahkanlah pekerjaan Tuhan kepada Tuhan, dan biarkanlah kita bekerja mengikuti arahan Tuhan dan bukannya mengikuti kata hati manusia. (Terangkan Paulus ke Makedonia, dll)
2.     Dalam berorganisasi, bisa saja ada perbedaan pendapat, ada perbedaan pikiran, tetapi janganlah jadikan itu sebagai penghalang dalam pekerjaan Tuhan.
3.     Dalam pekerjaan Tuhan, akan ada pihak yang tidak suka, bahkan menyusahkan para pekerja Tuhan, tetapi ingat, Allah selalu menyediakan jalan keluar
4.     Baca kutipan hari Jumat
 
“Mereka yang pada hari ini mengajarkan kebenaran-kebenaran yang tidak disukai tidak perlu putus asa kalau sekali-sekali mereka bertemu dengan perlakuan yang tidak menyenangkan, walaupun dari mereka yang mengaku orang-orang Kristen, seperti yang dialami Paulus dan teman-teman sekerjanya dari antara orang banyak diantara siapa mereka bekerja.  Pesuruh-persuruh salib mesti mempersenjatai diri sendiri dengan berjaga-jaga dan berdoa, dan maju dengan iman dan keberanian, bekerja selamanya dalam nama Yesus.”  – Ellen G. White, Alfa dan Omega, Jilid 7 hal 194
 
Tuhan berkati

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published.