Ayat tema :
“Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa.  Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa , yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa” – Kisah 13:38, 39
 
Keterangan Pendahuluan
Argumentasi diatas, datang dari sebuah nalar orang Yahudi dizaman sebelum kematian Yesus, bahwa berbicara tentang pengampunan dosa, itu bukan perkara mudah.  Seseorang harus mengeluarkan biaya untuk membeli korban, ada upaya disana, ada kerja disana, ada pengorbanan diri yang harus dibuat disana demi mendapatkan pengampunan dosa.
 
Tidak mudah, seorang yang non Yahudi menjadi Kristen ditengah lingkungan Yahudi yang telah menjadi Kristen. Karena bagi Yahudi yang menjadi Kristen, pola pikir kuno tetap terbawa disana.  Dalam konteks nalar Yahudi, Keselamatan dan pengampunan dosa, butuh usaha dan butuh biaya.
 
Ayat tema kita pekan ini adalah merupakan salah satu ayat pendukung yang memberikan ketegasan dan makna yang dalam tentang apa Gospel atau injil itu sebenarnya.  Injil adalah KABAR BAIK.  Kabar baik tentang apa? Kabar baik bahwa kita bisa mendapatkan pengampunan dosa.  Melalui siapa? Melalui Yesus Kristus.  Dengan cara apa? Apakah saya harus berbuat sesuatu? Tidak! Bahkan tidak perlu dengan cara masa lampau, seperti yang dilakukan oleh orang Israel dengan cara mengikuti tradisi hukum Musa.  Ayat ini memberikan keterangan jelas, “…di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa , yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa”
 
PENDAHULUAN
Jarak waktu antara Saulus bertobat dan memulai perjalanan misinya ada kurang lebih 10 tahun.  10 tahun, adalah waktu yang cukup bagi seorang Paulus untuk memahami Kekristenan, baik dari segi pemahaman dan pengetahuan maupun dari segi pengalaman. 
 
Keterangan ini penting karena ini menjadi acuan penting untuk disimak. Sebab Paulus pernah menulis kepada Timotius demikian (1 Tim 3:6) untuk mereka yang dipercayakan sebagai penilik jemaat,
 
“janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman iblis.”
 
Jadi ketika Paulus memulai perjalanan misinya yang pertama, benar-benar dia merupakan seorang yang sudah matang secara rohani dan pengalaman Kekristenan dan tentu saja pengetahuannya telah sangat memadai.
 
Pekan kita cukum membagi pelajaran dalam 3 bagian besar,
 
1.     Kisah tentang bagaimana permulaan pelayanan Paulus
2.     Kisah tentang pelayanan di Antiokhia
3.     Kisah tentang pelayanan di Ikonium, Listra dan Derbe
 
KISAH TENTANG BAGAIMANA PERMULAAN PELAYANAN PAULUS
Ada beberapa hal yang penting bisa disimak dari Kisah 13:1-12,
1.     Pasal 13 adalah pasal permulaan penyebutan Saulus dengan nama Paulus (ayat 9) dan di pasal ini mulai terlihat peranan Paulus yang sangat besar dalam perkembangan gereja di awal.
2.     Disebutkan kelima orang nabi dan pengajar, Barnabas seorang Lewi dari Siprus, Simeon yang disebut Niger (orang hitam, kemungkinan dari Afrika), Lukius seorang dari Afrika Utara, Menahem, dan Saulus atau Paulus, seorang Yahudi, yang dibesarkan di Tarsus, berkewarganeraan Romawi.  Dengan disebut kelima orang diatas dan latar belakang mereka, menunjukkan bahwa Kekristenan setelah lebih 10 tahun setelah kematian Stevanus, merupakan perpaduan kelompok manusia dari berbagai ragam dan latar belakang.
3.     Di ayat 2 dan 3 dari pasal 13 disebutkan bahwa para pimpinan gereja ini, berpuasa dan berdoa.  Sebuah kebiasaan yang sudah kita temukan sejak awal Kekristenan.  Artinya bahwa setelah lebih dari 10 tahun, kebisaan berdoa dan berpuasa masih merupakan ciri dan kebiasaan dari Gereja Kristen mula-mula.  Orang boleh bertambah, kemajuan bisa terjadi, tapi kebiasaan baik harus tetap dipertahankan.  Berdoa dan berpuasa adalah sesuatu yang sangat baik.
4.     Perhatikan catatan Alkitab berikut ini (13:2)
 
Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”
 
Terlihat jelas bahwa sampai lebih 10 tahun kemudian, baik pekerjaan Tuhan dan baik yang memilih orang serta menentukan tempat pelayanan adalah pekerjaan Tuhan melalui Roh Kudus.  Bukan berarti tidak ada rencana kerja, dan tidak ada visi misi yang jelas dalam kekristenan, tetapi catatan Alkitab ini memberi kesan dan pesan yang kuat, bahwa pekerjaan ini adalah semata-mata pekerjaan Tuhan dan manusia atau umatNya hanyalah alat dan bukan penentu pekerjaan.
5.     Ayat 6 menyebutkan, “mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos.” Dengan adanya catatan ini memberi kesan bahwa para penginjil ini tidak memilih-milih tempat, tetapi semua tempat di pulau itu mereka kunjungi dan bawakan pekabaran.
6.     Catatan kisah ini juga menyebutkan tentang sosok Baryesus atau Elimas, seorang Yahudi yang juga adalah penyihir yang menjadi penghalang pekerjaan injil di pulau itu.  Ini merupakan tantangan tersendiri, sebab di satu sisi ada seorang pejabat yakni Gubernur pulau itu, Sergius Paulus seorang non Yahudi, yang tertarik dengan injil, tapi disisi yang lain ada seorang penghalang. Tapi kisah ini berakhir menakjubkan oleh karena terlihat kuasa Allah lebih besar dari kuasa setan.  Gubernur itu percaya dan bertobat, sedangkan penghalang itu justru menjadi buta.  Pelajarannya adalah, tidak seorangpun yang bisa menghalangi pekerjaan Tuhan, jika memang Tuhan yang sedang bekerja disana.
 
KISAH TENTANG PELAYANAN DI ANTIOKHIA
Berbicara tentang Antiokhia, saat itu merupakan daerah komunitas Kristen yang besar diluar Yerusalem.  Daerahnya cukup luas dan membutuhkan banyak pekerja, tapi sayangnya ditengah kebutuhan akan pekerja, justru Yohanes Markus, yang merupakan kemenakan Barnabas, meninggalkan rombongan ini.  Tidak ada catatan Alkitab mengenai hal ini, tetapi catatan Ny Ellen G White dalam buku Alfa dan Omega Jilid 7, hal 144 berkata demikian,
 
“Markus di takut-takuti, dan kehilangan segala keberanian, enggan pergi lebih jauh dan kembali ke Yerusalem”
 
Catatan lainnya dalam Seventh Day Bible Commentary (SDA BC) Vol 6, hal 285 menyebutkan demikian,
 
“There is no clue as to why John left.  Perhaps he feared the perils and hardships of the journey into the interior.”
(Tidak ada petunjuk mengapa John pergi. Mungkin dia takut akan bahaya dan kesulitan perjalanan ke pedalaman.)
 
Yohanes Markus, adalah penginjil muda saat itu.  Mungkin di satu sisi kita rasa wajar, jika seorang muda yang belum berpengalaman kelihatan takut dan memiliki mental lemah, tetapi ini adalah pekerjaan Tuhan, dan Tuhan tidak pernah akan meninggalkan hambaNya. 
Di Antiokhia, kita melihat catatan buku Kisah ini, menyatakan peranan Paulus yang begitu luar biasa.  Dia berkhotbah, khotbahnya sangat hebat.  Berisi sejarah singkat orang Israel, kronologi peristiwa yang sudah terjadi di paparkan, tapi yang terpenting dalam khotbahnya dia menuntun orang kepada Yesus Kristus dan ayat 39, ayat kita pekan ini, adalah inti pelajaran Paulus, bahwa Yesus-lah satu-satunya pembebas manusia dari dosa dan bukan karena penurutan akan hokum taurat. Inti dari khobah Paulus ini yang kembali di dengungkan oleh Martin Luther hampir 1400 tahun kemudian setelah khotbah Paulus ini, “Sola Gratia” hanya oleh kasih Karunia Yesus Kristus manusia diselamatkan dan mendapatkan pengampunan, bukan karena hal yang lain.
 
Pendeknya, banyak orang tertarik dengan pekabaran yang disampaikan Paulus, tetapi sama seperti kisah-kisah sebelumnya, orang-orang Yahudi selalu menjadi penghalang dan pembuat onar dalam penyebaran injil.  Saat orang banyak datang mendengar pekabaran Paulus, catatan buku Kisah menyebutkan
 
(13:45) “tetapi ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membanta apa yang dikatakan oleh Paulus.”
 
Sebelum kita lanjut, ada sebuah ungkapan yang perlu kita perhatikan,
 
“Bila seseorang atau sekelompok manusia tidak menerima kebenaran Firman Tuhan, maka dia akan menjadi penghalang atau bahkan perusak pekerjaan Tuhan, karena jika seorang membuka hatinya untuk mendengarkan Tuhan berbicara, maka pikirannya akan dituntun untuk menerimaNya dan bersedia untuk melakukan kehendakNya dan tentunya dia akan menjadi pendukung pekerjaan Tuhan.”
 
Dalam kasus di Antiokhia (juga terjadi di Ikonium dan tempat-tempat lainnya), semua itu terjadi karena orang-orang Yahudi menolak menerima kebenaran Injil yakni Yesus yang sudah disampaikan oleh Paulus dkk.
                       
KISAH TENTANG PELAYANAN DI IKONIUM, LISTRA DAN DERBE
Dari Antiokhia, Paulus dkk berangkat ke Ikonium.  Di Ikonium, Paulus dan Barnabas meneruskan praktik mereka, yakni terlebih dahulu berbicara kepada orang-orang Yahudi baru kemudian kepada mereka yang non Yahudi. 
 
Terlihat disini peranan Paulus yang begitu luar biasa, seorang Yahudi yang betul-betul tidak hanya sekedar terlahir sebagai keturunan Yahudi tetapi paham akan ajaran dan tradisi Yahudi juga paham akan teologia yang dalam yang tersirat dalam semua ajaran Yahudi. Dan selalu memusatkan semua ajarannya kepada Yesus.
 
Nampaknya disini terlihat bahwa target Paulus adalah orang Yahudi dan juga non Yahudi didasarkan pada pemahamannya bahwa keselamatan itu telah terbuka untuk semua orang tanpa memandang latar belakangnya. Tetapi selalu ada perlawanan dari orang Yahudi atas pekabaran yang disampaikannya, tetapi Paulus tetap konsisten dengan misi dan pekabarannya. 
 
Ketika ada hambatan di Ikonium, Paulus dkk pergi ke Listra dan Derbe. 
Ada yang menarik di tempat ini, kalau sebelumnya di Kisah 3, kita temukan Petrus menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahir, maka di Kisah 14 juga kita temukan mujizat yang sama, juga kepada seorang yang lumpuh sejak lahir. Tapi kali ini mujizat itu dilakukan oleh Paulus.  Apa yang perlu kita simak disini, orang boleh berbeda, waktu dan tempat berbeda, tapi mungkin masalah bisa sama, persoalannya juga bisa sama, tapi jangan lupa, sumber kekuatan dan kesembuhan itu hanya satu, Yesus.
 
Kenapa mujizat itu diijinkan?  Karena Allah memiliki maksud ditempat itu melalui mujizat.  Perhatikan reaksi orang-orang saat itu?  Ayat 11, “ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka berseru dalam Bahasa Likaonia: “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.”  Walaupun reaksi Paulus dan Barnabas selanjutnya tidak setuju dengan cara pandang orang-orang itu terhadap mereka, tetapi dalam kasus ini, Tuhan mengijinkan Paulus mengadakan mujizat ini, untuk meyakinkan orang-orang disana yang masih sangat mempercayai tahyul. Yang ingin saya katakan adalah, bukan berarti Allah hari ini tidak lagi membuat mujizat, Dia masih membuat mujizat, tetapi ingat baik-baik, jika itu terjadi, itu bukan tujuan komersil satu kelompok atau seseorang, itu juga bukan cara terbaik yang digunakan Allah untuk memenangkan hati orang, itu hanya salah satu cara yang kecil (bukan satu-satunya dan bukan yang terbesar), yang bisa digunakan Allah untuk percaya kepadaNya.  Pada akhirnya kita melihat bahwa semua Rasul-rasul yang diijinkan Tuhan menggunakan mujizat, tidak pernah meninggikan dirinya sendiri, dan tidak pernah menggunakan mujizat itu sebagai alat untuk membuat daya Tarik orang datang kepada kebenaran.
 
PENUTUP
Pada penutup pembahasan ini, saya ingin mengutip pernyataan Ny Ellen G White dalam buku the act of the Apostles, hal 186,
 
“Dalam semua upaya misionaris mereka, Paulus dan Banabas berusaha untuk mengikuti teladan Kristus yang rela berkorban, setia, dan tekun bekerja bagi jiwa-jiwa.  Tetap siaga, tekun, tidak mengenal lelah, tidak tawar menawar dengan kecenderungan hati, atau kenyamanan pribadi, tetapi dengan penuh doa serta kegiatan yang tiada hentinya mereka menabur beni-benih kebenaran.”
 
Apa yang bisa kita tangkap dari tulisan diatas? MOTIF.  Motif para rasul ini benar-benar murni, tulus dan sungguh-sungguh dalam pelayanan.  Hari ini, bicara tentang motif bukanlah hal yang mudah dalam pekerjaan Tuhan.  Begitu banyak pekerja yang muncul, begitu banyak pekerjaan penginjilan dilakukan oleh banyak orang,  ada yang berhasil ada yang tidak,  ada yang berkembang, tapi ada yang mundur.  Penginjilan muncul dengan berbagai metode mutakhir.  Para penginjil Kaliber international muncul dimana-mana, dengan mengundang simpati ribuan bahkan jutaan orang di seluruh dunia. Pekabaran-pekabaran hebat disampaikan oleh para evangelis-evangelis hebat, tetapi dibalik semua ini pertanyaan yang terpenting adalah, apakah motif dibalik semua ini? Atau lebih specific lagi bagi pelaku pekerjaan ini, tanyakanlah secara pribadi, “apakah motif mu benar dalam pelayanan?”
 
Jika motif kita benar, maka gambaran kehidupan dan pelayanan Paulus dkk, akan terlihat dalam kehidupan kita.  Bayangkan, melayani tanpa uang, melayani disertai penolakan dan penganiayaan, melayani dengan susah payah.  Kalau bukan karena motif yang benar, mungkin sebagian besar dari kisah-kisah menakjubkan dalam buku Kisah ini tidak tercatat atau bahkan tidak ada buku Kisah.  Tapi buku kisah, terlihat keindahannya dari orang-orang seperti Petrus, Paulus, Barnabas dll yang memiliki motif yang tulus, dan sungguh-sungguh dalam pelayanan dan hasilnya Kekristenan bisa berkembang dan bertahan sampai saat ini.
 
Tuhan berkati

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published.