Pada pekan ini kita akan lebih banyak mempelajari mengenai apakah arti penatalayanan. Yang dapat saya bagi kedalam tiga hal berikut ini:

  1. Arti penatalayanan dalam kitab perjanjian lama dan baru
  2. Makna penatalayanan dalam tugas pekerjaan (khususnya Rohani)
  3. Tanggung jawab seorang penatalayan

Saya senang mengutip dari pelajaran sekolah sabat kita hari sabat petang. Ketika saya masih bersekolah di SMP—saya tidak akan pernah lupa guru agama saya mengajarkan penatalayanan itu adalah 4T—Time, Temple, Talents and Treasure. Tetapi sekolah Sabat kita mengatakan dengan jelas bahwa sejak kejatuhan di Eden pelayanan penatalayanan itu berubah—atau mungki lebih tepatnya ditambahakan. Apa itu? Perhatikan kutipan berikut ini: Since the Fall in Eden, however, the task of stewardship has changed, because, along with the responsibilities of caring for the material world, we are also entrusted to be good stewards of spiritual truths.[1] Pertanyaan yang penting adalah sampai dimanakah kita dapat dipercayakan oleh Allah untuk menjadi penatalayan atas kebenaran-kebenaran rohani. Bukankah ada banyak hal yang juga, kita sebagai hamba Allah tidak dapat mengerti keseluruhannya. Sebelum kita mengarah kesana kita akan lihat dulu definisi dari penatalayan[2] dalam perjanjian lama dan baru. Dalam perjanjian lama ada tiga hal maksud dari penatalayanan ini—kata penatalayan dalam ayat-ayat perjanjian lama tidak dari satu kata tetapi dari sebuah ungkapan : asher al bayt, “orang-orang yang ada di atau atas rumah”[3] yang dapat kita terangkan dalam tiga hal berikut ini:

  1. Penatalayanan adalah posisi tanggung jawab yang besar (Kej. 39:4); karena mereka dipilih atas kemampuan mereka; sehingga mereka mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan dari Sang Pemilik.
  2. Seorang penatalayan mengerti bahwa apa yang dipercayakan kepada mereka adalah milik tuan mereka (Kej. 24:34-38)
  3. Seorang penatalayan mengerti bahwa ketika mereka mengambil atau menggunakan untuk diri sendiri apa yang telah dipercayakan kepada mereka—akan mengakibatkan hubungan kepercayaan yang rusak—dan sang penatalayan dipecat (Kej. 3:23; Hos. 6:7)[4]

Saya mengaris bawahi kata kemampuan—kemampuan disini adalah bukan karena kehebatan sang penatalayan, tetapi ini adalah apa yang dinyatakan kepada mereka; apa  yang dimampukan Tuhan untuk mereka lakukan. Bukan hanya dalam hal materi saja, kitab perjanjian baru memberikan penekanan yang lebih luas. Seperti yang dituliskan dalam pelajaran sekolah sabat kita, Jesus expands the definition of steward. His lesson is about more than a steward escaping financial disaster. It is also applicable to those escaping spiritual disaster through a wise manifestation of faith.[5] Berbicara hal-hal rohani—ada begitu banyak misteri yang tidak dapat kita ketahui tetapi, apa yang perlu kita ketahui pasti akan ditunjukkan kepada kita. Seperti yang tertulis dalam:

Ulangan 29:29 Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”

Tidak dapat dipungkiri ketika kita mempelajari ataupun ketika datang pertanyaan kepada kita perihal firman Tuhan—ada saja hal-hal yang dapat membuat kita tidak dapat menjawabnya atau mungkin tidak dapat mengerti dengan baik. Tapi ada satu janji yang baik, dari tulisan hamba Tuhan E. G. White yang dapat saya bagikan saat ini: “Only in the light that shines from Calvary can nature’s teaching be read aright. Through the story of Bethlehem and the cross let it be shown how good is to conquer evil, and how every blessing that comes to us is a gift of redemption.” – Ellen G. White, Education, p. 101.[6] Bagi saya pribadi, mungkin ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan didalam Alkitab—tetapi dengan kesungguh-sungguhan mencari kebenaran firman-Nya untuk memuliakan Dia—ada kepuasan menjadi pengikut Kristus. Saya berdoa supaya para pelajar Alkitab juga dapat merasakan kepuasan menjadi pengikut Kristus. Yang terakhir bagaimana saat ini tanggung jawab kita sebagai seorang penatalayan, mungkin tidak mudah tapi saya yakin Tuhan akan memampukan. Dan kunci utama untuk menjadi seorang penatalayan Ilahi adalah kemauan. Seperti yang dituliskan dalam pelajaran sekolah Sabat kita. Willingness to accept personal responsibility is a key trait that cannot be ignored when we define what a steward is, for stewards must be single-minded in having the best interest of the Owner at heart. Hence, such willingness is a choice that defines the desired relationship a steward has with God.[7] Jadi agar menjadi penatalayan yang bertangung jawab penuh ada tiga hal  yang bisa kita ambil. Pertama kemauan, kefokusan dan merasakan hubungan antara Owner-Tuhan dan kita sebagai Manajer-penatalayan. Saya ingin menutupnya dengan tulisan E. G. White yang menyatakan sebagai berikut ini:

Every man has been made a steward of sacred trusts; each is to discharge his trust according to the direction of the Giver; and by each an account of his stewardship must be rendered to God.” – Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 7, p. 176.[8]

Marilah kita menjadi penatalayan Tuhan—bekerja sama dengan Tuhan untuk melayani, mengusahakan dan menjalankan tugas-tugas yang Tuhan telah percayakan bagi kita. Bukan hanya sekedar materi yang kelihatan tapi juga pekabaran firman Tuhan—yang dapat menguatkan kita yang percaya kepada-Nya. Tuhan memberkati.

[1]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less05.html

[2]Sabat yang lalu kita sebut sebagai manager and God is the owner. Kita akan banyak gunakan kata penatalayan, penatalayanan—agar kita terbiasa dengan kata-kata ini.

[3]Pelajaran sekolah Sabat, hari jumat 2 Februari 2018, hlm. 59
[4]Diambil dari pelajaran sekolah Sabat, hari minggu 28 Januari 2018, hlm. 54
[5]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less05.html
[6]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less05.html
[7]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less05.html
[8]http://www.ssnet.org/lessons/18a/less05.html

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *