Ayat tema :
“Firman Allah makin tesebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”- Kisah 6:7)

Berbicara tentang Kekristenan hari ini, adalah berbicara tentang manusia yang jumlahnya telah mencapai 2,3 Milyar atau 31,2% penduduk di dunia hari ini.  Sebuah angka yang fantastis jika dilihat perkembangannya diawal Kekristenan jika di lihat dari waktu, populasi, dan juga angka-angka financial yang menyangkut asset dan nilai perputaran uang yang dimilikinya.  Jika ini merupakan perusahaan atau organisasi, maka ini adalah perusahan tua dan lama serta kaya. Bagaimana ini bisa terjadi demikian?

 

PENDAHULUAN

  • Berbicara tentang kemajuan suatu organisasi atau perusahan maka itu tidak lepas dari 2 hal yakni Leadership (Kepemimpinan) dan Management (Pengelolahan).
  • Dan berbicara tentang 2 hal diatas maka, itu berbicara tentang kualitas individu seseorang atau beberapa orang yang terkait dalam kepemimpinan dan pengelolahan.
  • Dan berbicara tentang kualitas individu, maka paling tidak ada beberapa hal dibawah ini yang tidak bisa dilepaskan karena itu menjadi penentu dalam keberhasilan
  1. Skills (Ketrampilan)
  2. Academicals background (Pendidikan)
  3. Experiences (Pengalaman)
  4. Good character or attitude (Tabiat) disini termasuk, intergritas, kejujuran, keuletan, kesabaran, dll
  5. Performance in work (Penampilan)
  6. Leadership style and model (Kepemimpinan)
  7. Dan Influence (Pengaruh), John C. Maxwell, seorang pakar Christian Leadership pernah berkata, Leadership is influence—nothing more, nothing less.”

Namun jika hal diatas dijadikan standard atau dasar kesuksesan Kekristenan di awal, maka sesungguhnya semua diatas, tidak masuk dalam standar yang ada.

Coba simak satu persatu.

  1. Apakah skill dari Petrus dkk selain mereka hanya terbiasa di nelayan, itupun tidak selalu Nampak hebat, karena Alkitab menceritakan, mereka pernah gagal mendapatkan ikan sehingga Yesus harus membantu mereka, mereka juga pernah hampir tenggelam di tengah badai sehingga Yesus harus membantu meneduhkan angin rebut.
  2. Academicals Background, mereka semua nelayan dan tidak berpendidikan tinggi.
  3. Pengalaman? Mereka juga tidak punya, sebab selama 3,5 tahun bersama Yesus, lebih banyak mereka melakukan kesalahan.
  4. Karakter mereka? Jangan ditanya lagi, sudah kasar, ambisius, pemarah, tidak ramah, egois dll
  5. Penampilan? Tentu tidak bisa diharapkan karena pasti gaya “orang kampung” yang tidak rapi, tidak terlalu sopan, dan berkelas seperti halnya orang kota.
  6. Kepemimpinan? Itupun meragukan, karena antara mereka sendiri, saling berebutan untuk menjadi pemimpin utama
  7. Sehingga kalau kita bicara pengaruh, maka mustahil orang-orang ini bisa memiliki pengaruh yang luas, dan memiliki pengikut yang banyak dari berbagai kalangan dan status social.

Lalu apa rahasianya sehingga Kekristenan itu boleh menjadi besar, bertahan lama, memiliki pengikut yang setia dan dalam jumlah banyak, tersebar diseluruh belahan dunia, melewati batas-batas budaya, Bahasa, suku dll, padahal gerakan ini dimulai dari orang-orang yang biasa-biasa saja, hampir 2000 tahun yang lampau.  Apa rahasianya?

Pelajaran pekan ini begitu penting untuk menelusuri jejak Kekristenan awal dan rahasia pertumbuhan dan perkembangan Kekristenan.

Informasi penting tentang Gereja dan Para pelayan mula-mula (Pendahulan)

  1. Anggota Gereja Kristen mula-mula adalah orang Yahudi, tetapi Yahudi Helenis, yakni orang-orang Yahudi yang tidak dilahirkan di tanah asal mereka (ditanah asing), tidak mengenal bahasa Aramaik (Bahasa yang saat itu digunakan oleh Yahudi di Yudea), juga tidak terlalu kolot atau fanatic dengan tradisi Yahudi. Mereka bersifat lebih terbuka dibandingkan dengan Yahudi tulen.
  2. Berbicara Gereja, ini tidak hanya menyangkut hal-hal rohani saja (Pengajaran: Khotbah, baca firman Tuhan, berdoa, menyanyi dll) tapi Gereja juga berbicara mengenai memenuhi kebutuhan jasmani anggota, makanan dll
  3. Ada masalah dalam pelayanan di gereja, khususnya dalam pembagian bantuan sehingga perlu penambahan personel pelayan. Maka dibuatlah komite gereja untuk memilih 7 diakones
  4. Perhatikan disini, ke-12 rasul itu memanggil semua murid (6:2) “Lalu kedua belas rasul itu menghimpunkan sekalian murid yang banyak itu TL (Semua murid berkumpul TBl)” (so the apostles called the believers together), pernyataan ini penting karena disini menunjukkan bahwa antara Laymen (anggota biasa) dan Clergy (Para pemimpin gereja) di awal Kekristenan mempunyai hubungan pekerjaan yang saling mendukung dan bukannya terpisah.
  5. Masalah meja (makanan) adalah masalah penting. Ingatkah kita ketika ada 5000 orang yang sudah mendengarkan Yesus berkhotbah lalu hari sudah petang, dan murid-murid berkata kepada Yesus supaya menyuruh orang-orang ini pulang tanpa harus memberi mereka makan? Tapi apa kata Yesus? “Kamu harus memberi mereka makan.”  Dengan demikian maka jelas maksud kata-kata para Rasul ini (ayat 2) “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.”
  6. Lalu dipilihkan 7 orang diakon atau pelayan.
  7. Perhatikan syarat-syarat para diakon baik, dan yang penuh Roh dan hikmat (Band dengan 1 Tim 3:8-13) menunjukkan bahwa orang-orang yang dipilih adalah benar-benar punya kapasitas karakter yang terhormat.  Disini bukan berbicara tentang individu yang mempunyai latar belakang intelektual yang hebat, status akademis yang tinggi, tapi disini berbicara tentang tabiat, karakter, perilaku dan etika seseorang.  Penting ini untuk diperhatikan.

 

STEVANUS

Stevanus berarti “Mahkota.” Berbicara tentang Mahkota, dalam Perjanjian Baru menggunakan dua istilah yaitu, Diadema, yakni “Mahkota kerajaan” yang hanya bisa dipakai oleh mereka yang mempunyai garis keturunan Raja.  Dan yang kedua adalah Stephanos yakni “Mahkota kemenangan” yang biasanya diberikan kepada pemenang suatu perlombaan.  Di dalam buku Wahyu, para periode Smirna, periode setelah Efesus, periode yang dikenal dalam sejarah kekristenan adalah periode penuh dengan darah, karena pada periode inilah begitu banyak orang Kristen yang mati.  Ada kata penghiburan yang Yesus sampaikan melalui Yohanes, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan aku akan mengaruniakan kepadamu, MAHKOTA KEHIDUPAN” kata stephanos yang digunakan disana.  Stevanus, juga adalah seorang martir yang setia sampai mati.

Catatan BC Vol 6 hal 190, menyebutkan bahwa menurut tradisi lampau menyatakan bahwa Stevanus dan Filipus, dua orang dari diakon terpilih ini sesungguhnya adalah bagian dari 70 murid yang diutus ke kota-kota dan kampong-kampung (Lukas 10:1-11).

  • Dan sama seperti halnya Petrus dan rasul-rasul lainnya, Stevanus selalu mengkhotbahkan tentang Yesus dan disinilah persoalannya.
  • Mereka juga menuduh bahwa Stevanus mengatakan bahwa Yesus akan merubuhkan bait suci dan mengubah tradisi dan ajaran Musa yang selama ini mereka pelihara. Peristiwa ini terjadi terjadi sekitar tahun 34 M dan lebih 30 tahun kemudian bait suci itu benar-benar rubuh.
  • Tuduhan bahwa Stevanus berusaha menghilangkan tradisi dan ajaran Musa, adalah merupakan penghujatan bagi orang Yahudi.
  • Perhatikan khotbah pembelaan Stevanus yang panjang, benar-benar terlihat wawasan pengetahuan agama, sejarah (dimulai dari Abraham sampai Salomo) dan kebenaran Firman yang benar-benar sangat dikuasai oleh Stevanus, tetapi yang paling penting dari semuanya, dia adalah seorang yang benar-benar dikuasai Roh Kudus. (singgung pelajaran sebelumnya)
  • Tapi yang terpenting adalah, dalam peristiwa pengadilan dan kematian Stevanus, dia benar-benar menjadi saksi yang luar biasa, menyampaikan kebenaran yang sebenarnya dengan cara yang benar diwaktu yang benar kepada mereka yang tidak benar.
  • Stevanus, walaupun hanya muncul sekilas dalam buku Kisah, dengan cerita yang singkat, tetapi memberikan gambaran yang luas tentang kekuatan gereja Kristen awal, yakni pada orang-orang yang penuh penyerahan, penuh dengan Roh Kudus dan berani menyampaikan kebenaran.
  • Jadi Stevanus, adalah simbol figure Kristen tulen, kehidupannya yang singkat membuka rahasia kekuatan Kekristenan bahwa sesungguhnya bukan pada skill, bukan pada latar belakang akademis, pengalaman, penampilan dll, tetapi pada iman dan Roh Kudus (Kisah 6:5)
  • Dan bagaimana dengan kematiannya? Kematian Stevanus memberi pengaruh yang luar biasa kepada orang lain, salah satunya adalah Saulus yang akhirnya tidak begitu lama setelah peristiwa kematian Stevanus, bertobat dan akhirnya menjadi Paulus, Rasul yang pemberani itu, yang mati juga seperti Stevanus dengan berani.  Leadership is influence
  • Pelajaran SS kita menyebut, kesaksian Stevanus ini harganya mahal, karena itu dibayar dengan nyawanya. Tapi darahnya memberikan pengaruh luas.

 

YESUS DALAM PENGADILAN SORGAWI

Pernahkah saudara melihat pemandangan seperti ini, dalam sebuah pesta,

  • untuk menyambut kedatangan pengantin, maka hadirin disuruh untuk berdiri
  • Dalam sebuah acara istimewa, untuk menyambut seseorang yang special maka semuanya berdiri.
  • Mengapa berdiri? Karena itu tanda memberi penghormatan bagi orang yang dihormati.

Perhatikan pernyataan Alkitab

Pada moment mendekati kematian Stevanus,

“Tetapi Stevanus yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan YESUS BERIDIRI di sebelah kanan Allah.” Bukankah ini sebuah tindakan penghormatan untuk seorang martir yang hebat, Stevanus. 

“Jika Sorga harus memberikan penghargaan kepada seseorang, maka itu bukan karena atas titel atau kedudukan yang dimilikinya diatas dunia ini, itu bukan juga karena status social yang tinggi yang disandang seseorang, bukan juga karena pencapaian akademisnya, tetapi Sorga selalu menaruh perhatian dan memberi penghargaan kepada mereka-mereka yang membuktikan imannya sampai akhir.  Yang tetap setia menjalankan tugas pelayanannya, sekalipun maut mengancamnya.

 

PENYEBARAN INJIL

Tetapi Kematian Stevanus adalah pembuka jalan untuk injil tersebar keluar.  Kematian Stevanus diganti oleh kehadiran Saulus yang akhirnya dikenal sebagai Paulus (kita akan pelajari sosok ini pada pelajaran-pelajaran berikutnya)

Maka mulailai injil ini terbuka keluar dari Yerusalem dan terbuka untuk mereka yang bukan Yahudi

  1. Dimulai dengan Filipus yang pergi ke Samaria (Kisah 8:4-25) Sejarah Samaria vs Yahudi, dijaman Yesus, kedua kelompok masyarakat ini, yang notabene bersaudara, tapi sangat dibenci orang Yahudi. Sukar rasanya melihat kenyataan Samaria dan Yahudi bisa bersatu. Dan memang awalnya demikian, tetapi kebenaran Injil, dimana Yesus menjadi pusat, justru bisa menyatukan mereka.  Terbukti akhirnya Yesus dan injil, bisa menjadi alat pemersatu dua kubu yang bertentangan ini.
  2. Kemudian kepada orang non Yahudi, Ethiopia (Kisah 8:26-40), ini juga membuat bukti bahwa Kekristenan akhirnya melampaui batas-batas wilayah, budaya, Bahasa, suku dan Bahasa.
  3. Dan nanti kita akan pelajari bagaimana pelayanan Paulus yang melampaui batas-batas wilayah dan budaya untuk menyampaikan injil

 

PENUTUP

Pada akhirnya kita melihat beberapa fakta dibawah ini

  1. Injil atau kabar keselamatan itu, tidak bisa dibatasi oleh manusia atas dasar-dasar wilayah, budaya, waktu dll. Karena injil itu datang dari Allah, maka Allah sendiri yang akan menuntun perjalanan injil itu untuk disebarkan
  2. Injil tidak mengenal bahaya. Bahkan kematian tidak bisa mematikan spirit injil. Yesus yang memulai kematian, itu terus dilanjutkan oleh pengikut-pengikutNYA.
  3. “Penganiyaan yang datang kepada jemaat di Yerusalem berhasil memberikan suatu PENDORONG YANG BESAR bagi pekerjaan Injil.” Ellen G White, Alfa dan Omega, Jilid 7 hal 88
  4. Dan pelajaran ini memberikan kesan bahwa sesungguhnya kekuatan dari Kekristenan ini, bukan pada individu-individu yang hebat, tetapi pada kekuatan Roh Allah, dan pekerjaan Allah dan campur tangan Allah secara langsung dan nyata, baik kepada individu maupun kepada organisasi yang dibentuk, yakni lembaga gereja. Allah-lah yang mengontrol segala sesuatu dan bukan kehebatan manusia.  Menelusuri sejarah Kekristenan itu sama dengan menelusuri dan mendalami cara kerja Allah yang begitu hebat dan luar biasa dalam mengatur segala sesuatu. Allah-lah yang hebat bukan manusia, Allah-lah yang luar biasa, bukan orang-orang yang luar biasa.
  5. Jika kita ingin melihat keberhasilan, maka kita perlu kembali kepada cara mula-mula Kekristenan, yakni berserah penuh kepada Allah, dan mengandalkanNya dalam segala sesuatu.

 

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *