Pada pekan ini kita akan melihat bagaimana dan atas dasar apakah sehingga Petrus memiliki keyakinan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Tuhan. Didalam ayat hafalan kita bisa kita lihat ayat berikut ini:

2 Petrus 1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

Perhatikan kata “kami” siapakah kami itu? Bagi saya pribadi itu adalah para rasul, murid-murid Yesus yang semakin percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Atas dasar apakah mereka percaya? Dari ayat diatas kita bisa melihat itu adalah atas dasar “firman yang disampaikan oleh para nabi.” Sekolah Sabat kita menyebutkan demikian; dalam 1 Petrus 1:10-12, mari kita lihat ayatnya:

1 Petrus 1:10-12 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

Petrus mengarahkan pembacanya kepada kitab suci Ibrani, kepada nabi-nabi dahulu kala, dan apa yang mereka ajarkan mengenai Yesus. Dapat kita lihat yaitu mengenai penderitaan dan kemuliaan Yesus. Anda dapat membacanya dalam ayat-ayat berikut ini Mzm. 22; Yes 53:1-12; Za. 12:10, 13:7; Yer. 33:14, 15; Dan. 7:13, 14—ayat-ayat mengenai nubuatan akan penderitaan dan kemuliaan yang dialami oleh Yesus dalam Kitab perjanjian lama.

Bagi Petrus, bukan hanya secara nubuatan dan penyelidikan Alkitab yang membuat Petrus semakin yakin bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun juga karena, Ia adalah “saksi mata.” Sebelum kitab membahas perihal saksi mata ini, saya ingin mengingatkan bagi kita semua, sedangkan Petrus sangat diteguhkan keimanannya atas Yesus sebagai Tuhan—atas dasar firman yang ia pelajari—apa lagi kita saat ini, kita sangat wajib mempelajari firman Tuhan baik itu kitab perjanjian lama ataupun perjanjian baru. Ingat, 2 Timotius 3:16-17 mengatakan sebagai berikut:

2 Timotius 3:16-17 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Ayat ini sangat jelas bukan? Firman itu untuk mengajar, menyatakan kesalaha, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran—agar kita diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Artinya bila kita belajar firman dengan benar—tapi sikap kita belum baik!! Mungkin kita masih salah dalam belajar firman Tuhan. Selanjutnya mari kita lihat, kesaksian Petrus atau Petrus sebagai saksi mata. Saksi mata akan perihal apakah itu? Yang secara spesifik disebutkan oleh Petrus dalam suratnya.

2 Petrus 1:16-18 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.

Peristiwa yang dituliskan oleh Petrus dalam 2 Petrus 1:16-18 dituliskan dalam Injil (Lukas 9:28-36; Mat. 17:1-8 dan Markus 9:2-8)—kisah dimana Yesus mengajak Petrus, Yohanes dan Yakobus untuk berdoa bersama diatas gunung dimana wajah Yesus bersinar dan pakaian-Nya menjadi putih menyilaukan. Tentu Petrus bukan saja menjadi saksi atas “transfiguration of Jesus Christ” namun dari sejak mujizat ikan yang pertama sampai kepada melihat Yesus di Galilea setelah kebangkitan-Nya.[1]

Petrus sangat luar biasa dalam keimanannya dan keteguhannya didalam membagikan imannya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat. Sebagai yang terakhir, saya ingin kita kembali melihat ayat hafalan kita pada minggu ini:

2 Petrus 1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

Perhatikan ayat yang saya warnai merah. Apa maksudnya itu? Mari kita lihat satu persatu, apa maksud memperhatikan firman itu seperti memperhatikan pelita yang bercahaya ditempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar didalam hatimu. Bintang timur (Wahyu 2:28; 22:16)—adalah Yesus.[2] Kita adalah manusia yang telah jatuh dalam dosa—kita perlu Yesus terang itu yang dapat menerangi kehidupan kita bagaikan fajar yang menyingsing. Bintang timur yang terbit bersinar itu sendiri dipercayai adalah sebagai kedatangan Yesus yang kedua kali. Bagi saya pribadi itu artinya adalah kita harus memperhatikan firman Tuhan itu sampai Sang pemilik firman itu, yang adalah Firman itu sendiri akan kembali datang untuk menjemput kita manusia yang percaya. Oleh sebab itu kita harus setia didalam mempelajari firman-Nya; ayat menyebutkan demikian didalam cara kita mempelajari firman Tuhan..

2 Petrus 1:20-21 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Jangan sekali-kali kita menggunakan kecerdasan kita didalam menafsirkan firman Tuhan. Sekolah sabat kita menyebutkan demikian “Petrus mendesak mereka untuk menyampaikan penafsiran mereka tentang Kitab suci kepada pimpinan jemaat secara keseluruhan. Berapa banyakkah orang yang telah hanyut dalam fanatisme dan kesalahan karena mereka menolak untuk mengindahkan nasihat dari komunitas orang percaya yang dituntun Roh? Hal itu berbahaya waktu lalu, dan demikian juga sekarang ini.”[3] Kita wajib mempelajari Alkitab secara pribadi tentunya, namun didalam menafsirkan suatu kitab suci kita tidak boleh menggunakan pendapat ataupun pengetahuan pribadi kita—saya senang membagikan ayat berikut ini:

Amsal 11:14 Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.

Marilah kita lebih setia dan tekun mempelajari Firman Tuhan didalam doa, kesungguh-sungguhan dan kerendahan hati. Tuhan memberkati

Pdt. Franklin Satori

[1]Pelajaran sekolah Sabat, hari senin 29 mei 2017, hlm. 115

[2]Hari selasa 30 mei 2017,  hlm. 116

[3]Hari rabu 31 mei 2017, hlm. 117

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *