Setelah kita dikuatkan oleh prinsip-prinsip kekal bahwa Tuhan adalah yang terutama. Materi ataupun kekayaan bukanlah dosa—namun materi itu adalah jebakan ataupun jerat yang sering kali digunakan oleh iblis untuk dapat menjatuhkan umat-umat manusia. Pekan ini kita akan belajar, bagaimana cara kita yang hidup didalam dunia ini tetapi tetap tidak menjadi milik dunia. Sebelum kita melanjutkan, ada hal yang paling penting yang wajib kita ingat dalam mempelajari pelajaran sekolah sabat kita minggu ini adalah yang tertulis dalam ayat hafalan kita Sabat ini:

Amsal 11:4, 28 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut. Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.

Ingat tujuan kita adalah bukan dunia ini—harta kita yang utama tidak kita simpan didunia ini tetapi dalam kerajaan surga. Mungkin kita juga dapat memikirkan, dengan ayat diatas—bayangkan bila didaerah kita tertimpa bencana atau mungkin perang; seperti yang bisa kita lihat ditelevisi, melalui internet—bagaimana keadaan tempat yang terjadi bencana, perang—semua rumah-rumah rusak, harta, mobil bahkan nyawa kitapun terancam. Tetapi kita percaya bila kita meletakkan harta kita pada Tuhan. Harta kita disurga, maka ada keamanan dalam hati kita. Sabat ini kita akan melihat dalam cara bagaimanakah kita yang hidup didunia ini agar tidak terseret dalam jerat keduniawian; agar mendapatkan ketenangan hati, ketenangan batin—walaupun saya percaya kita tetap membutuhkan materi untuk kehidupan kita. Minimal ada empat hal yang bisa kita lakukan dan kita akan jabarkan yaitu:

  1. Hubungan kita dengan Yesus
  2. Membaca firman Tuhan dan berdoa
  3. Menghidupkan hikmat
  4. Tuntunan Roh Kudus

Perlu kita ingat empat hal ini bukanlah langkah-langkah yang harus dilakukan satu persatu atau yang ini dulu.. setelah itu baru yang lain. Tetapi langkah-langkah diatas adalah untuk membuat kita lebih sistematis dalam mengajarkan hal-hal penting ini dalam diskusi sekolah Sabat kita. Hubungan kita dengan Yesus adalah sangat jelas akan terpancar dalam kehidupan sehari-hari kita. Sekolah sabat kita menerangkan sebagai berikut : The only cure for worldliness, in whatever form it comes, is a continual devotion to Christ (Ps. 34:1) through the ups and downs of life. Moses “regarded disgrace for the sake of Christ as of greater value than the treasures of Egypt” (Heb. 11:26, NIV). Before any other relationship, Christ must be our first priority.[1]

Ibrani 11:24-26 Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.

Sekali lagi sebelum saya menlanjutkan, pelajaran sekolah Sabat kita tidak pernah mengajarkan bahwa materi-uang-kekayaan adalah dosa! Jangan nanti kita berfikir wah orang kaya itu penuh dengan dosa, tidak demikian! Tetapi kita tau menempakan posisi—mana yang harus diutamakan antara uang dan Tuhan. Hubungan itu akan bertumbuh dengan lebih baik dengan cara komunikasi. Seperti yang dituliskan oleh pelajaran sekolah Sabat kita. It is no wonder that Christians often say that their faith is about a relationship with God. If knowing God is “eternal life,” then we can find that life through a relationship with Him. And, of course, central to that relationship is communication.[2] Komunikasi itu dilakukan dalam pembacaan firman Tuhan—Allah berbicara kepada kita dan didalam Doa—kita berbicara kepada Tuhan. berikut ayat-ayatnya:

Yohanes 5:39-40 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Koq bisa ya? Sudah belajar firman Tuhan—tetapi tetap hampa, tidak ada perubahan—karena kita tidak datang sungguh-sungguh kepada Dia. Mungkin kita belajar untuk mengajar, belajar untuk formalitas dan sebagainya. Kita perlu belajar firman Tuhan untuk bertemu dan mendengarkan Dia berbicara. Dan tentunya itulah kita memerlukan tuntunan Roh Kudus. The Holy Spirit empowers us to live by principle and by faith, not by whims or emotions that so dominate the world. Successful preparation for living in heaven comes by living faithfully in this world under the direction of the Holy Spirit.[3] Roh kudus itu akan menguatkan kita dan menuntun kita, seperti yang dituliskan dalam ayat berikut ini:

Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Dan kalau saya boleh tambahkan mengenai Roh kudus ini, didalam:

Yohanes 16:8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

Itulah sebabnya kita tidak dapat melakukan pembacaan firman Tuhan tanpa meminta tuntunan Roh kudus didalam doa yang sungguh-sungguh. Saya ingin mengutip tulisan Ellen G. White mengenai doa yang dituliskan sebagai berikut ini: He makes it plain that our asking must be according to God’s will; we must ask for the things that He has promised, and whatever we receive must be used in doing His will. The conditions met, the promise is unequivocal.” – Ellen G. White, Prayer, p. 57.[4] Dan yang terakhir adalah menghidupkan apa yang sudah kita baca dalam Firman Tuhan dan kita doakan. Saya senang mengambil apa yang dikatakan oleh pelajaran sekolah sabat kita: Hikmat adalah aplikasi dari pengetahuan dan pengertian. Pengetahuan mewakili fakta-fakta; pengertian mewakili kearifan; dan hikmat datang dalam proses menerapkan pengertian dan pengetahuan kita untuk hidup kita.[5] Yang tentunya dituntun oleh Roh kudus.—hikmat yang berasal dari Tuhan yang dapat kita temukan dalam setiap lembaran Firman-Nya, dalam kehidupan kita yang penuh doa; sehingga kita tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan adalah yang utama dibanding dengan segala materi yang ada disekitar kita saat ini. Tuhan memberkati

[1]https://ssnet.org/lessons/18a/less04.html– terjemahan sekolah Sabat bahasa Indonesia, selasa 23 Januari 2018, hlm. 42
[2]https://ssnet.org/lessons/18a/less04.html
[3]https://ssnet.org/lessons/18a/less04.html
[4]https://ssnet.org/lessons/18a/less04.html
[5]Pelajaran sekolah Sabat, Rabu 24 Januari 2018, hlm. 45

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *