Pekan ini kita akan mempelajari mengenai Daniel[1] dan sahabat-sahabatnya yang merupakan satu contoh yang dapat kita ambil dalam dunia saat ini. Daniel dan sahabat-sahabat-Nya telah menjadi terang ditengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Bagaimanakah dengan keberadaan kita? Bisakah kita membuat orang-orang disekitar kita dapat berkata seperti Raja Nebukadnezar dalam ayat berikut ini:

Daniel 2:47 Berkatalah raja kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.”

Sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu. Karena tindakan Daniel DKK, Tuhan dikenal, dimuliakan dan ditinggikan oleh Nebukadnezar. Mengapa Daniel dapat setia kepada Tuhan? mengapa ia boleh menjadi pengaruh untuk membawa Raja ini meninggikan Tuhan? Mengapa Tuhan mau bekerjasama dan membukakan arti mimpi Raja Nebukadnezar kepada Daniel dkk? Jawabannya ada didalam ayat berikut ini:

Ulangan 4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

Dalam Daniel pasal 1, kita mengetahui bahwa Daniel DKK telah berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan makanan dan minuman raja—dan ini terbukti, pilihan yang telah Daniel buat telah memberkati kehidupannya, sepuluh kali lipat lebih baik (Daniel 1:20). Perhatikan dua ayat berikut ini:

Daniel 1:8 Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Daniel 1:20 Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.

Luar biasa, ketetapan—kebiasaan Daniel dalam hal pilihan hidup, khususnya makanan—telah tetap memberikan kepada Daniel DKK menjadi sepuluh kali lebih cerdas bukan hanya dari orang biasa, tapi dari orang yang cerdas. Kita percaya kepintaran dan hikmat Daniel DKK adalah berasal dari Tuhan, bukan dari makanan, tetapi tentu sebagai umat Tuhan, kita tidak akan sembarangan didalam menjaga tubuh kita yang adalah kaabah Tuhan. Kita akan mengikuti peraturan-peraturan yang Tuhan telah tetapkan bagi kita, termasuk dalam hal makanan. Seperti dalam ayat berikut ini:

Lukas 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Daniel adalah seorang yang setia dan bergantung kepada Tuhan, ketika dalam Daniel 2, Daniel dkk terancam untuk mati akibat mimpi Raja Nebukadnezar yang tidak ia ketahui maknanya. Daniel DKK berdoa kepada Tuhan agar dapat memberikan mimpi Raja Nebukadnezar dan artinya. (Daniel 2:17-23). Bahkan ketika memberitahukan arti mimpi itu kepada Nebukadnezar, Daniel tidak mengambil kredit bagi dirinya—Daniel tetap memuliakan nama Tuhan.

Daniel 2:26 Bertanyalah raja kepada Daniel yang namanya Beltsazar: “Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?”

2:27 Daniel menjawab, katanya kepada raja: “Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum.

2:28 Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:

Kredit itu tidak diambil oleh Daniel, tapi Daniel menjawab pertanyaan Raja, bahwa yang bisa dan sanggup untuk memberitahukan dan mengartikan mimpi itu hanya Allah di sorga. Jadi, dalam kerendahan hati dan ketergantungannya kepada Allah, Daniel mampu menjadi saksi yang sangat berkuasa. Jika Daniel, sat itu, telah menunjukkan kerendahan hati, betapa seharusnya kita lebih menunjukan kerendahan hati saat ini?[2] Belum cukup dengan itu? Daniel pasal 3 memberikan satu gambaran mengenai penyembahan. Dimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego diperhadapkan dengan patung emas buatan Nebukadnezar yang kepada patung itu mereka harus menyembah, hal ini sesuai dengan gambaran dalam Wahyu 13:11-15—Dalam kedua kasus, isu utama adalah ibadah, tetapi keduanya berbicara tentang ibadah yang dipaksa. Yaitu, kuasa politik yang mengendalikan ibadah, yang seharusnya ditunjukan kepada Allah saja.[3] Mari kita lihat Wahyu 13:11-15.

Wahyu 13:11-15 Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga. Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh. Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.

Apa yang harus kita lakukan? Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego kita harus tetap setia.. perhatikan kata-kata jawaban Sadrakh DKK kepada Nebukadnezar yang menyuruh mereka untuk menyembah binatang itu…

Daniel 3:16-18 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Jawaban mereka adalah mereka tidak tau apa yang akan terjadi dengan hidup mereka didunia ini, tetapi iman mereka mengetahui dengan pasti bahwa hanya menyembah kepada Allah mereka akan memiliki hidup kekal, hidup yang tak dapat diambil oleh siapapun yang ada didalam dunia ini. Sama halnya dengan Daniel, dalam pasal 6, ketika didakwa karena kebiasaannya berdoa… Daniel tetap setia kepada Tuhan. Sampai-sampai raja Darius mengatakan demikian:

Daniel 6:17 Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

Raja yang satu ini, Darius tentu ia telah memiliki pengetahun mengenai Allahnya Daniel, Darius sadar tidak bisa menolong Daniel, atas peraturan ataupun perintah yang ia sendiri telah keluarkan, tapi Darius tau bahwa Allah yang disembah oleh Daniel dengan tekun akan melepaskan Daniel. Luar biasa? Bagaimana kita dikenal oleh orang disekitar kita? Bagaimana keyakinan dan ketekunan kita kepada Allah?—biarlah ini menjadi perenungan kita disepanjang hidup kita. Tuhan memberkati.

[1]Setidaknya Daniel pasal 1 s.d. pasal 6
[2]Pelajaran sekolah Sabat, senin 9 April 2018, hlm. 19
[3]Sekolah Sabat, selasa 10 April 2018, hlm. 20

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *