Pelajaran sekolah sabat kita kali ini akan mempelajari lebih dalam tentang persepuluhan, semoga pelajaran ini dapat diterima oleh anggota jemaat Advent, bukan sebagai panggilan bahwa organisasi sedang butuh uang, tetapi kita akan melihat perpuluhan dalam porsi yang benar. Saya ingin memulaikan pelajaran sekolah Sabat kita kali ini dengan ayat hafalan kita yang tertulis dalam Lukas 8:15 (bandingkan antara bahasa ingrish-KJV dan indonesia)

Lukas 8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”[1]

Luke 8:15 But that on the good ground are they, which in an honest and good heart, having heard the word, keep it, and bring forth fruit with patience.

Jika kita lihat seperti ada yang hilang dari yang dituliskan pada terjemahan KJV, an honest and good heart – hati yang jujur dan baik. Untuk mendapatkan hati yang jujur dan baik ini tidak terjadi begitu saja, karena kita sudah jatuh didalam dosa maka untuk menjadi jujur dan baik, sekolah Sabat kita mengatakan demikian: Truth and honesty are always together. Yet, we were not born with an inclination to be honest; it is a learned moral virtue and is at the core of a steward’s moral character. When we practice honesty, good things come of it. For instance, there is never a worry about being caught in a lie or having to cover it up[2]. Dan hal ini haruslah kita pelajari dari sejak dini dari sekarang.. dari hal-hal yang kecil.

Lukas 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Bukan hanya itu saja. Selain kita diminta untuk setia dalam perkara-perkara kecil, seperti datang tepat waktu ke gereja, tidak bersantai-santai dijam kerja dan lain sebagainya.. Tuhan juga memberikan kita penangkal yang ampun untuk ketidakjujuran dan egoisme—itu adalah perpuluhan, Maleakhi 3:8 dan Imamat 27:30, saya coba mengambil dari apa yang Ellen G. White katakan:

“No appeal is made to gratitude or to generosity. This is a matter of simple honesty. The tithe is the Lord’s; and He bids us return to Him that which is His own. . . . If honesty is an essential principle of business life, must we not recognize our obligation to God—the obligation that underlies every other?”—Ellen G. White, Education, pp. 138, 139.[3]

Perpuluhan jelas bukan masalah kedermawanan ataupun ucapan syukur tapi itu adalah kejujuran. Jujur dalam segala hal dimulai dengan yang paling dasar,  yang mungkin orang tidak tau, tapi Tuhan tau—itu adalah perpuluhan! Mengapa perpuluhan? Minimal ada dua hal  yang penting dalam perpuluhan seperti yang dikatakan oleh pelajaran sekolah Sabat kita sebagai berikut : tithing is a statement of faith. It is an outward, visible, personal expression of the reality of our faith.[4] Yang kedua, Tithing is a humble expression of dependence on God and an act of trust that Christ is our Redeemer.[5]

Lebih jauh lagi perpuluhan itu adalah kudus. Mengapa perpuluhan itu kudus? “Tithe belongs to the Lord and therefore is holy. It does not become holy through a vow or a consecration act. It is simply holy by its very nature; it belongs to the Lord. No one except God has a right to it. No one can consecrate it to the Lord, because tithe is never part of a person’s property.”—Ángel Manuel Rodríguez, Stewardship Roots (Silver Spring, Md.: Stewardship Ministries Department, 1994), p. 52.[6] Perpuluhan itu menjadi kudus bukan karena doa seorang pendeta atau karena kerinduan kita—tapi memang sifat alamiah dari perpuluhan itu adalah kudus—karena itu adalah milik Tuhan. selesai! Hal ini sama dengan hari Sabat, itu menjadi kudus karena Tuhan sendiri yang memisahkan hari Sabat dari hari-hari yang lainnya, untuk Diri-Nya! Untuk Tuhan.

Itulah mengapa diperlukan kejujuran dalam memberikan perpuluhan dan untuk dapat menjalankan kehidupan jujur kepada Tuhan—kita memerlukan iman. Seperti Abraham yang diuji untuk mempersembahkan Ishak di gunung Moria (Kejadian 22:1-12) iman seperti ini tentu tidak berasal dari satu atau dua hari—tetapi ini sudah dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan. Sekolah Sabat kita mengatakan demikian The point is that the faith of a steward is not a one-time act either. Over time, it will grow either deeper and stronger or shallower and weaker, depending upon how the one who claims that faith exercises it.[7] kekuatan imat sangat bergantung kepada kita mengolah iman kita itu, berserah kepada Tuhan dalam doa dan perenungan firman Tuhan. ini bisa kita lakukan bila kita memandang kepada Yesus!

Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Hanya dengan melihat kepada Yesus maka akan terjadi kebangunan dan pembaharuan setiap saat didalam hidup kita yang penuh dosa. Mari kita lihat sejenak definisi kebangunan dan pembaharuan menurut hamba Tuhan, Ellen G. White:

“Kebangunan dan pembaruan adalah dua hal yang berbeda. Kebangunan menandakan pembaruan kehidupan rohani, menghidupkan kuasa pikiran dan hati, kebangkitan dari kematian rohani. Pembaharuan menandakan reorganisasi, perubahan dalam ide dan teori, kebiasaan dan praktik.”—Ellen G. White, Christian Service, hlm. 42.

Dan pembaharuan serta kebangunan akan memberikan respons yang berbeda dalam cara hidup kita, cara makan kita, cara berbicara kita dan tentu kesetiaan kita dalam persepuluhan! Dalam pelajaran Sekolah Sabat kita ditekankan ketika terjadi pembaharuan dalam pemerintahan raja Hizkia dan juga ketika bangsa Israel mulai membangun kembali Yerusalem—Rumah Allah, pada zaman Nehemia. Salah satu impact yang terlihat adalah bagaimana mereka memberikan persepuluhan yang adalah milik Tuhan.

2 Tawarikh 31:5 Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.

Nehemia 13:12 Maka seluruh orang Yehuda membawa lagi persembahan persepuluhan dari pada gandum, anggur dan minyak ke perbendaharaan.

Saya ingin menutup pelajaran sekolah Sabat kali ini dengan tulisan E. G. White yang menyatakan demikian:

“A close, selfish spirit seems to prevent men from giving to God His own. The Lord made a special covenant with men, that if they would regularly set apart the portion designated for the advancement of Christ’s kingdom, the Lord would bless them abundantly, so that there would not be room to receive His gifts. But if men withhold that which belongs to God, the Lord plainly declares, ‘Ye are cursed with a curse.’ ”—Ellen G. White, Counsels on Stewardship, p. 77.[8]

Tuhan memberkati

[1]Ini adalah perumpamaan tentang seorang penabur, benih jatuh ke empat jenis tanah.
[2]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[3]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[4]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[5]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[6]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[7]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN
[8]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK07LESN

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *