Saya senang membuka pelajaran sekolah sabat kita dengan tulisan dari Ellen G. White berikut ini: “We shall be individually, for time and eternity, what our habits make us. The lives of those who form right habits, and are faithful in the performance of every duty, will be as shining lights, shedding bright beams upon the pathway of others.” – Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 4, p. 452. Tabiat kita terbentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang kita buat. your habits reveal purpose and direction in your life. Stewards who develop good habits are the most faithful stewards. Daniel had a habit of daily prayer (Dan. 6:10). Paul’s custom was to be in the synagogue (Acts 17:12). He also writes: “Do not be deceived: ‘Evil company corrupts good habits” (1 Cor. 15:33, NKJV). We are to cultivate good habits in order to replace bad ones. Saya pernah mengikuti satu seminar yang mengatakan bahwa satu-satunya cara terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan membangun kebiasaan baik! Dan setelah kebiasan itu terbangun maka secara otomatis tanpa dikomando, kita dapat melakukan kebiasan baik dan benar itu!—ibarat bila sudah biasa mengendarai mobil dengan jalur yang sama—seolah-olah otomatis tangan dan kaki ini bergerak sendiri tanpa ada komando. Dalam pelajaran sekolah Sabat kita minimal ada empat kebiasaan yang selayaknya dimilik oleh seorang penatalayan. Empat kebiasaan itu adalah:

Lima kebiasaan seorang penatalayan:

  1. Mencari Allah yang pertama
  2. Menanti kedatangan Yesus kembali
  3. Menggunakan waktu dengan bijaksana
  4. Menjaga pikiran, tubuh dan jiwa yang sehat
  5. Mendisiplin diri

Kelima hal ini sebenarnya dapat disimpulkan dalah satu kalimat yaitu “kebiasaan berjalan dengan Allah” atau kebiasaan hidup didalam Tuhan, tepat seperti yang dituliskan oleh tulisan Roh Nubuat berikut ini: Down through the ages, people have walked with God just as Enoch and Noah did. For instance, Daniel and his friends “realized that in order to stand as representatives of true religion amid the false religions of heathenism they must have clearness of intellect and must perfect a Christian character. And God Himself was their teacher. Constantly praying, conscientiously studying, keeping in touch with the Unseen, they walked with God as did Enoch.” – Ellen G. White, Prophets and Kings, p. 486.[1] Saat ini mari kita lihat kelima detail yang akan  menjadi pelajaran kita sepanjang minggu ini: mencari Allah yang pertama. Dengan membuat Allah sebagai yang pertama dalam setiap keseharian kita dan jadikanlah ini kebiasaan. Sebagaimana pelajaran sekolah Sabat mengambil contoh kehidupan Yesus. Berdoa setiap saat, merenungkan kasih Allah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. “Every morning dedicate yourself, soul, body, and spirit, to God. Establish habits of devotion and trust more and more in your Saviour.” – Ellen G. White, Mind, Character, and Personality, vol. 1, p. 15.[2] Termasuk cara mendidikasikan diri kita kepada Tuhan adalah melalui doa dan membaca firman Tuhan. Throughout His life, Jesus craved communion with His Father, as evidenced by His habitual prayer life. This habit was something that the disciples did not fully understand. All the powers of darkness could not separate Jesus from the Father, because Jesus made it a habit to keep totally connected with Him.[3] Yang berikutnya yang tidak kalah penting adalah mengarahkan pandangan kita kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Mengapa ini penting? Pelajaran Sekolah Sabat kita mengatakan sebagai berikut: The promise of the Second Coming gives us direction in our lives, provides a proper perspective to the present, and helps us remember what is important in life. The habit of looking for the return of Jesus gives a steward definition and purpose.[4]

Menggunakan waktu dengan bijaksana. Sekolah Sabat kita mengatakan bahwa If we lose money we may eventually get it back, maybe even more than what we first lost. Not so with time. A moment lost is a moment lost forever.[5] Seorang penatalayan Tuhan tentu akan menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin, karena dengan waktu kita dapat membentuk kebiasaan yang akan membentuk karakter.

Efesus 5:15-16 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

Waktu kita didunia ini terbatas, seperti uap air, hanya sebentar saja—seperti yang telah kita baca dalam pelajaran sekolah Sabat hari selasa, oleh sebab itu adalah baik bila kita sebagai penatalayan Tuhan menggunakan waktu yang singkat ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Yang keempat, menjaga pikiran, tubuh dan jiwa yang sehat. Dari apa yang saya catat dalam pelajaran sekolah Sabat kita, hal-hal praktikal dalam menjaga pikiran, tubuh dan jiwa yang sehat adalah tentu dengan menenangkan pikiran kita, menaruh damai dalam hati kita yang bisa kita dapatkan melalui apa yang disebutkan dalam Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. –lalu lakukanlah semua itu! Termasuk gerak tubuh, olahraga dan diet yang tepat. Kemudian langkah berikutnya adalah a steward will develop good habits to invigorate the soul. Lift your soul up to God (Ps. 86:45) and wait (Ps. 62:5). Your soul will prosper “as you walk in the truth” (3 John 3, NKJV) and will be “preserved blameless at the coming of our Lord Jesus Christ” (1 Thess. 5:23, NKJV).[6]

Yang kelima, kebiasaan seorang penatalayan adalah mendisiplin diri. Seperti yang Paulus tuliskan dalam ayat berikut ini: 1 Korintus 9:26-27 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Pengendalian diri adalah hal yang sangat penting. Bila kita tidak dapat mengendalikan diri kita maka kita akan kesulitan didalam mempelajari dan melakukan firman Tuhan. seperti yang dikatakan oleh Ellen G. White berikut ini: “The world is given to self-indulgence. Errors and fables abound. Satan’s snares for destroying souls are multiplied. All who would perfect holiness in the fear of God must learn the lessons of temperance and self-control. The appetites and passions must be held in subjection to the higher powers of the mind. This self-discipline is essential to that mental strength and spiritual insight which will enable us to understand and to practice the sacred truths of God’s word.” – Ellen G. White, The Desire of Ages, p. 101.[7] Marilah kita hidup didalam Tuhan, berjalan bersamanya dengan mengutamakan Tuhan setiap mengawali hari, mengarahkan pandangan kita pada pengharapan kita—kedatangan Yesus yang keduakali dengan menggunakan waktu dengan baik, menjaga pikiran tubuh dan jiwa serta melakukannya terus menerus dalam disiplin diri yang kudus. Tuhan memberkati

[1]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[2]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[3]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[4]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[5]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[6]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html
[7]http://ssnet.org/lessons/18a/less12.html

geojc14

View all posts

1 comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya merasa terberkati dengan pelajaran sekolah sabat yg sudah diberikan sangat sederhana mudah dimengerti dan biarlah ini menjadi kekuatan saya utk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih pak pdt, Padhi Tv dan semua orang yg terlibat dalam pelayanan. Tuhan memberkati