Ayat tema :
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)
Latar belakang buku Kisah Para Rasul. 
1.     Pada tulisan kuno yang dikenal dengan nama papyrus 45 yang ditemukan dan dalam Codex Sinaiticus, judul buku ini hanya tertulis “Acts” atau bisa diterjemahkan sebagai “perbuatan atau tindakan.” Tanpa ada kata tambahan lain.
2.     Penulisnya adalah Lukas (orang yang sama yang juga menulis buku injil dengan namanya, Lukas)
3.     Lukas adalah seorang berlatar belakang medis, atau tepatnya disebut “tabib” dan merupakan seorang yang bertobat menjadi Kristen tapi bukan dari kalangan Yahudi dan menjadi satu-satunya penulis buku-buku dalam Perjanjian baru yang bukan berlatar belakang Yahudi. 
4.     Dia adalah sahabat dari Paulus dan sangat mengagumi pelayanan Paulus yang dianggapnya sebagai seorang yang sangat berperan besar dalam menyebarkan injil kepada orang-orang non Yahudi, sehingga tidaklah heran hampir 2/3 buku Kisah lebih banyak bercerita tentang sosok Paulus, yang awalnya bukanlah salah seorang dari para rasul, sementara justru tidak semua rasul dituliskan kisahnya, hanya Petrus, Yakobus dan Yohanes dan itupun hanya dituliskan pada bagian permulaan buku ini saja, selebihnya buku Kisah lebih banyak bercerita tentang pelayanan Paulus.
5.     Buku Kisah Para Rasul sesungguhnya adalah kisah sejarah awal Kekristenan (kurang lebih 30 tahun) dimulai dari saat kenaikan Yesus ke Sorga (sekitar tahun 31 M) hingga pada akhir perjalanan misionaris Paulus mendekati eksekusinya di Roma (sekitar tahun 66, 67 M).
6.     Dan paling sedikit kisah-kisah dalam buku ini melewati 4 masa pemerintahan kaisar-kaisar di Roma, dimulai dari Tiberius, Caligula, Claudius dan terakhir Nero (dibawah pemerintahannya, Paulus di dibawah ke Roma dan akhirnya di eksekusi disana), dimana beberapa dari penguasa ini pada masa pemerintahannya, sangat mempengaruhi Kekristenan karena mereka menekan dan membatasi penyebaran Kekristenan di awal, namun demikian keempat pemerintahan ini tidak pernah dicatat dalam buku Kisah ini.
7.     Jika digabungkan tulisan Lukas (mulai dari buku injil Lukas sampai buku Kisah Para Rasul), maka dia menulis suatu sejarah panjang kurang lebih 60 tahun lebih, dimulai dari asal mula Kekristenan yang berpusat pada Yesus Kristus, bagaimana kisah kelahiranNya sampai pada saat penyalibanNya, kemudian dilanjutkan pada awal munculnya Kekristenan dan penyebarannya dan buku ini berakhir pada kisah tentang pelayanan para Rasul termasuk Paulus.  
8.     Lukas memberikan kontribusi besar bagi sejarah Kekristenan dengan menuliskan kisah-kisah luar biasa sejarah awal berdirinya Gereja Kristen dalam dua bukunya, yaitu injil Lukas dan buku Kisah Para Rasul.
 
Pendahuluan
Dalam Perjanjian Lama, terdapat banyak nubuatan tentang janji kedatangan Mesias.  Kedatangan Mesias ini bagi orang Yahudi, sangatlah penting, terlebih disaat mereka saat Lukas menulis kisahnya ini, Yahudi berada dalam tekanan pemerintahan Roma, sesuatu yang mereka tidak inginkan.  Mereka ingin berdiri sebagai suatu bangsa merdeka, lepas dari pemerintahan Roma.  Dalam posisi inilah, kehadiran Mesias ini, yang dianggap sebagai pembebas bangsa dan nantinya akan menjadi raja mereka, sangatlah dibutuhkan.  Murid-murid-Nya sendiri, mengikuti Yesus karena motivasi obsesi ini, yakni Mesias yang akan menjadi penyelamat Israel atas penindasan Roma.
 
Namun kedatangan Yesus yang sesungguhnya adalah pemenuhan akan nubuatan dan janji ini, justru diabaikan Yahudi, bahkan Yesus di tolak mereka, bahkan disalibkan mereka.  Mengapa? Karena kedatangan dan wujud Yesus, tidak sama dengan ekspektasi Yahudi, Yesus tidak datang dengan kemegahan-Nya, Dia datang dengan segala kesederhanaanNYA, justru itu Dia ditolak, tidak dianggap.
 
Tulisan Lukas, seakan-akan untuk menerangkan baik kepada orang Yahudi sendiri, dan non Yahudi bahwa sesungguhnya yang diharapkan itu, SUDAH ADA dan PERNAH ADA dan itulah Yesus.  Yesus inilah Mesias yang ditunggu-tunggu itu.  Dan dari sosok Yesus-lah, Lukas memulaikan dan mendasarkan kisahnya dalam bukunya ini.  Kata-kata perintah Yesus, dalam Kisah 1:8, untuk menjadi “saksi-NYA”menjadi permulaan dan dasar penting atas semua aktivitas yang terjadi dan dituliskan dalam buku Kisah, dimana semua aktivitas itu adalah merupakan pemenuhan atas misi yang agung ini.
 
MISI PARA MURID
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1:8
 
Ada 4 hal penting dari ayat diatas yang perlu di perhatikan
1.      Karunia Roh, pernyataan bahwa “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” adalah sesuatu yang sangat penting, karena tanpa kuasa dan penyertaan Roh Kudus, maka apapun upaya penginjilan yang dilakukan, itu tidak pernah akan berhasil.  Peranan Roh Kudus dalam diri seseorang menjadi penentu, keberhasilan upaya evangelisasi karena pekerjaan Evangelisasi sesungguhnya adalah pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada manusia.
2.     Peran Saksi, pernyataan bahwa “kamu akan menjadi saksi-Ku” pada awalnya disampaikan kepada mereka-mereka yang pernah melihat Yesus secara langsung, bahkan bagi para murid yang pernah hidup bersama-NYA dan saat itu sedang bersama-NYA disaat-saat terakhir sebelum Dia terangkat ke Sorga, mereka inilah diharapkan Yesus saat itu untuk menceritakan apa yang mereka telah lihat, mereka telah dengar dan yang mereka rasakan serta apa yang mereka ketahui tentang Yesus dan ajaran-NYA.  Peran ini akhirnya dilanjutkan oleh pengikut-pengikut Yesus selanjutnya sampai hari ini, termasuk saya dan saudara, kalau benar-benar kita sadar akan hal ini.
3.     Rencana Misi, pernyataan bahwa “akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,” menunjukkan bahwa Allah sangat terorganiser dan sistematis dalam menjalankan rencana misinya.  Dimulai dari ruang lingkup yang lebih kecil, lebih dekat dan lebih mudah untuk dijangkau, “Yerusalem.”  Jika tugas pada yang lebih kecil ini selesai, maka pekerjaan yang lebih besar diperhadapkan.  Dengan demikian terlihat akan keteraturan dan sistematisnya cara kerja Allah dalam misi-Nya.
4.     Orientasi Misi, pernyataan bahwa para saksi itu harus bergerak mulai dari “Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,” menunjukkan bahwa injil itu tidak dibatasi oleh tempat, suku, kaum dan daerah tertentu saja.  Jika dibandingkan dengan pernyataan Yesus dalam Matius 28:20, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman,” maka lebih jelas lagi, bahwa pekerjaan injil ini tidak akan berhenti sampai pada akhir zaman.
 
Perhatikan disini, Lukas, dalam dua kesempatan di dua bukunya (Lukas dan Kisah), menyampaikan kata-kata Yesus sebelum Dia mati disalibkan dan menjelang Dia naik ke sorga
Lukas 24:44-48
“…dalam nama-Nya, berita tentang  pertobatan dan pengampunan dosa (kabar baik Injil) HARUS DISAMPAIKAN KEPADA SEGALA BANGSA, MULAI DARI YERUSALEM.  KAMU ADALAH SAKSI DARI SEMUANYA INI.”
 
Kisah 1:8
“….kamu akan MENJADI SAKSI-KU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
 
Dua ayat ini menunjukkan betapa pentingnya misi atau tugas dan peranan para Murid Yesus untuk menjadi saksi bagi-Nya.  Dalam buku Kisah sendiri, Lukas beberapa kali menggunakan istilah “menjadi saksi” untuk tujuan yang sama,
1.     Kisah 1:22, “untuk MENJADI SAKSI…tentang kebangkitan-Nya”
2.     Kisah 13:31, “MENJADI SAKSI-NYA bagi umat ini”
3.     Kisah 22:15, “harus MENJADI SAKSI-NYA terhadap semua orang”
4.     Kisah 26:16, “Menjadi pelayanan dan saksi”
 
IA AKAN DATANG KEMBALI
Perhatikan hal-hal dibawah ini
·       Peristiwa kematian Yesus, adalah sebuah peristiwa yang penting dan disaksikan oleh banyak orang dan ditulis oleh keempat injil.
·       Peristiwa kebangkitan Yesus, adalah peristiwa yang tidak banyak orang saksikan, tetapi di tulis oleh keempat injil.
·       Peristiwa kenaikan Yesus ke Sorga, adalah peristiwa yang tidak banyak orang saksikan (paling tidak, tidak sebanyak saat Dia disalibkan) dan selain Markus dengan keterangan yang sangat singkat, hanya di 1 ayat saja (Mrk 16:19), hanya Lukas-lah dalam buku Lukas dan Kisah yang menuliskan fenomena itu lebih detail (Lukas 24:50-52; Kisah 1:6-11).
 
Sehingga, untuk meyakinkan kepada orang lain, diluar mereka yang pernah melihat 3 fenomena diatas akan kebenaran Yesus Kristus sesungguhnya dan misi-Nya bagi penyelamatan manusia, maka perlu adanya saksi yang kuat yang memberi keyakinan untuk percaya.  Disinilah bisa dilihat betapa pentingnya tulisan buku Kisah ini.  Sebab kalau tidak pernah ada catatan kenaikan Yesus, maka sulit untuk mempercayai bahwa sosok yang sudah mati dan bangkit itu benar-benar adalah Allah yang menjelma menjadi manusia dan akhirnya naik ke Sorga.
 
Hal yang lain lagi yang tidak kala penting yang harus dicatat disini bahwa melalui fenomena kenaikan Yesus ini, hanya di buku Kisah-lah yang memberikan catatan sangat penting, “YESUS INI (tidak pernah lagi akan ada lagi seperti sosok Dia ini), yang terangkat ke Sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali DENGAN CARA YANG SAMA SEPERTI KAMU MELIHAT DIA NAIK KE SORGA.” 
 
Kata-kata dari ayat ini sangatlah penting, karena selain mengandung janji dan jaminan akan kepastian kedatangan Tuhan, juga memberi gambaran proses kedatangan Tuhan yang tidak sembunyi-sembunyi atau bersifat pribadi, tetapi nyata dan dapat disaksikan oleh banyak orang.  Ini penting, karena sekarang ini ada banyak pemahaman yang keliru tentang kedatangan Tuhan yang bersifat sangat rahasia dan pribadi (secret rapture).   Catatan akhir dari pelajaran kita menyebutkan demikian, “Kemuliaan kedatangan kedua kali akan MELEBIHI KEMULIAAN KENAIKAN-NYA.”
 
PERSIAPAN UNTUK PENTAKOSTA
Setelah Yesus, mati dan akhirnya bangkit, optimism murid-murid akan munculnya raja yang hebat, kembali timbul.  Kematian dan kebangkitan-NYA yang fenomenal, menimbulkan keyakinan bahwa Yesus benar-benar sosok yang ditunggu-tunggu itu.  Tidak heran, murid-muridnya bertanya demikian ,
 
“Tuhan, maukah Engkau pada masa ini MEMULIHKAN KERAJAAN BAGI ISRAEL?” (Kisah 1:6)
dan Jawaban Yesus dalam ayat 7 dan 8, memberikan ketegasan kepada mereka, bahwa
1.     Misi dan rencana-Nya di dunia ini, TIDAK SAMA seperti konsep mereka, untuk menjadi pemimpin dan memulihkan kedudukan duniawi Israel, tidak.
2.     Bahwa segala sesuatu yang terjadi, Allah punya rencana dan maksud dan manusia tidak perlu mencari tahu dan bahkan mengaturnya.  “engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (ayat 7)
3.     Jika ada rencana yang perlu diketahui dan dilakukan oleh para Murid-Nya, itu adalah perintah untuk menjadi “SAKSI BAGI KRISTUS” dimana mereka berada dan dituntun Allah untuk berada. Baik di Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi.
4.     Menjadi saksi yang berkuasa, hanya setelah menerima kuasa Allah sendiri melalui Roh Kudus yang datang kepada mereka.
 
Lukas, menuliskan dengan sangat indah, pemenuhan janji Yesus seperti yang ditulis oleh Yohanes 14, bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka, karena Dia meminta kepada Bapa, penolong yang lain, yang setara dengan-Nya untuk mendampingi murid-murid-Nya itu, itulah Roh Kudus. 
 
Penting untuk di baca dan disimak awal buku Kisah ini, sebelum peristiwa Pentakosta, dimana saat itu semua murid itu mendapatkan kecurahan Roh Kudus.  Fakta yang menarik adalah, murid-murid yang sama ini, tidak sampai 2 bulan sebelumnya, sangat-sangat bertentangan satu dengan yang lain, tanpa sebuah kekuatan Roh persatuan yang mengikat mereka secara bersama-sama, tetapi setelah kenaikan Yesus dan sebelum hari Pentakosta, dicatat oleh buku Kisah dengan catatan seperti ini (ayat 14)
 
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”
 
Ternyata, tidak ada hati yang tidak dapat tidak dipersatukan.  Tidak ada masalah termasuk masalah persatuan yang tidak bisa dipecahkan.  Semuanya bisa, asalkan semuanya mau, duduk bersama merendahkan diri dihadapan Allah dalam doa-doa bersama. Pada pelajaran ini ada catatan penting disebutkan disana,
 
“semua mereka, tidak diragukan, terlibat dalam suatu masa pengakuan, pertobatan, dan meninggalkan dosa”
 
Semua perbedaan akhirnya hilang, saat mereka bersatu, berdoa dan bertobat sehingga akhirnya mereka boleh menerima kuasa Roh Kudus itu.  Situasi dan keadaan yang sama, bisa saja terjadi kepada umat-umat Allah dewasa ini, bagaimana cara mempersatukan segala perbedaan ini? Ikutilah konsep tua ini, cara yang pernah dibuat oleh para murid Yesus dahulu kala. Berdoa, bertekun, meninggalkan dosa, bertobat, selebihnya adalah pekerjaan Roh Kudus.  Dan lihatlah hasilnya.
 
MURID YANG KEDUA BELAS
Setelah Yudas, salah seorang dari kelompok 12, keluar atas pilihan dan keputusannya sendiri, maka dibuatlah pemilihan khusus untuk menggantinya.  Jika disimak catatan Kisah 1:21-26, maka dapat disimpulkan syarat-syarat calon pengganti Yudas adalah sbb:
1.     Pernah melihat dan menyaksikan pelayanan Yesus secara langsung selama berada bersama-sama dengan Murid-murid, mulai dari saat Dia dibaptiskan oleh Yohanes sampai saat Dia naik ke Sorga.
2.     Telah dikenal baik oleh para rasul lainnya dan terlibat bersama-sama dalam kelompok para rasul ini sejak pelayanan Yesus dari awal, sampai ketika Ia terangkat ke Sorga.
3.     Bersedia menjadi saksi bagi-Nya bersama-sama dengan murid-murid yang lain, tentang kebangkitan-Nya.
 
Perhatikan proses pemilihan ini
1.     Diberikan syarat-syarat pengganti
2.     Usulan nama, didapatlah 2 nama, Yusuf (Barsabas atau Yustus) dan Matias.
3.     Berdoa bersama dan menyerahkan pilihan ini ke tangan Allah.
4.     Membuang undi
5.     Terpilihlah Matias.
 
Bagi kita yang terbiasa pemilihan dengan menggunakan system “voting” atau “suara terbanyak”, pemilihan dengan cara membuang undi terasa aneh.  Tapi dijaman Alkitab, itu adalah cara yang lazim. 
1.     Saat untuk menentukan siapa yang bersalah antara Saul dan Yonatan anaknya (dalam 1 Sam 14), cara yang digunakan adalah membuang undi
2.     Dan pada waktu peristiwa Yunus diatas kapal yang hampir tenggelam, untuk mencari tahu siapa yang salah untuk dibuang, maka penumpang kapal itu juga menggunakan cara membuang undi dan didapatlah disana Yunus (Yunus 1:7).
Lepas dari cara atau metode pemilihan yang dilakukan, maka satu hal yang perlu kita catat dalam proses ini, adalah ketergantungan murid-murid pada kuasa dan pilihan Allah terhadap oknum yang akan dipilih.  Cara membuang undi berarti melepaskan diri dari semua kepentingan pribadi, membuang segala macam intervensi politik kepentingan kelompok tertentu.  Dan memasrahkan segala hasil pada sepenuhnya kehendak Allah.
 
Kesimpulan
Adalah sebuah statement yang menarik di akhir pelajaran kita hari ini dari tulisan Ny Ellen G White, buku Alfa dan Omega jilid 6, hal 477,
 
“Adalah suatu kekeliruan yang berbahaya bila menganggap bahwa pekerjaan menyelamatkan jiwa-jiwa, hanya bergantung kepada Pendeta yang diurapi.  Semua orang yang telah menerima ilham Surga, dipercayakan dengan injil itu.  Semua orang yang menerima hidup Kristus DITENTUKAN UNTUK BEKERJA BAGI KESELAMATAN SESAMA MANUSIA.  Untuk pekerjaan inilah jemaat itu didirikan, dan semua orang yang mengadakan janji suci itu berjanji, dengan demikian bekerja bersama-sama dengan Kristus.”

geojc14

View all posts

2 comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Shallom…Dua video penyampai pelajaran sekolah Sabat yang sama pun lagi baik… kerana cara penyampaian dan penjelasanya berbeza…Tuhan memberkati…

    • Shallom.. Terimakasih atas masukannya. Sayang nya pendeta Franklin Satori saat ini sudah pindah ke Philippines untuk lanjut study di AIIAS, jadi digantikan oleh pendeta Raymond Lohonauman. Tuhan memberkati. 🙂