Pekan ini kita akan melihat pelajaran sekolah Sabat kita yang dilandaskan atas 2 Petrus 1:1-15—saya harapkan saudara/i sebelum membaca rangkuman sekolah Sabat ini boleh membaca ayat diatas. Sudah membacanya?? Baiklah, pelajaran kita kali ini dapat kita bagi didalam 3 hal yaitu kita akan membahas mengenai :

Pentingnya iman atau pembenaran oleh iman

“Katalog Kebajikan” dalam hal ini kita akan melihat “tangga Petrus” (2 Pet. 1:5-7)

Keadaan orang mati dan pengharapan umat manusia

Saya ingin memulaikannya dengan “katalog kebajikan” atau tangga Petrus—sebutan yang sering saya gunakan. Sebelum kita melihat ayatnya, perlu saya tekankan bahwa adalah hal yang lazim diantara filsuf di zaman dahulu untuk membuat daftar perbuatan kebajikan. Seperti contoh dalam (Rm. 5:3-5; Yak. 1:3, 4 dan Gal. 5:22-23). Petrus juga memiliki katalog kebajikan yang wajib dimiliki oleh para pengikut Kristus.

 2 Petrus 1:5-7 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Iman—kebajikan—pengetahuan—penguasaan diri—ketekunan—kesalehan—love to brother—love to others

Tentu ke delapan (8) hal yang ada diatas bukanlah hal yang baru bagi kita. Semua kita tau apa arti dari 8 hal diatas; namun saya ingin coba menjelasakkany secara singkat. Hal pertama yang perlu kita lihat dari kedelapan items diatas adalah kata-kata Petrus pada awal ayat tersebut. “kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan” bahkan 2 Petrus 1:10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Petrus ingin mencoba menekankan kesungguh-sungguhan iman nasrani—itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan lebih jauh lagi diawal pembukaan surat Petrus yang kedua ini, Petrus menekankan demikian:

2 Petrus 1:1-4 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Petrus telah dengan baik, memberi penekanan akan iman yang adalah pemberian atas keadilan dan kasih karunia Allah—iman itu adalah pengharapan yang pasti, jaminan untuk keselamatan kita. Namun demikian kita perlu benar-benar menyadari untuk memiliki iman yang sempurna itu kita harus bergumul—berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat mewujudkan iman itu menjadi wujud kasih kepada semua orang; dalam hal ini, Petrus memberikan kedelapan langkah dari iman menjadi kasih kepada semua orang. Yang berikutnya adalah perkataan boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi,–apakah artinya ini? Apakah Petrus mengajarkan kepada kita akan kebakaan jiwa/roh? Apakah yang terjadi ketika kita mati? Dan apakah maksud mengambil bagian dalam kodrat Ilahi? Pertama jangan lupa kita pada awalnya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun karena dosa, maka manusia mengalami penurunan atau kehilangan citra Allah didalam kehidupannya—dan harus mengalami kematian. Jadi maksud Petrus dalam ayat berikut ini adalah:

2 Petrus 1:13-15 Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.

Bisa saja kita terkecoh dengan ayat ini seakan-akan ada “roh” dan “kemah tubuh” ini adalah satu wujud yang terpisah; dimana bila tidak ada “roh”, maka tubuh ini mati—sedangkan roh tetap hidup. Tidak demikian! Ingat manusia tercipta dengan dua unsur

Kejadian  2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

DEBU TANAH + NAFAS HIDUP = manusia yang hidup

Bagaiaman dengan statment? Tapi koq Petrus tau bahwa dia akan segera meninggalkan kemah tubuhnya? Ya.. kita semua, saat ini, juga tau bahwa satu kali kelak kita akan meninggalkan kema tubuh ini, bukan?

Pengkhotbah 9:4-5 Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.

Benar bukan? Kita tau bahwa satu kali kelak kita akan mati—entah itu kapan dan bagaimana—itu yang kita tidak tau. Namun demikian kita yang percaya pada Yesus, juga tau bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. 1 Tesalonika 4:16-18, 1 Korintus 15:12-58—menyebutkan bahwa akan ada kebangkitan—bukan kebangkitan roh; tetapi tubuh kita yang fana ini—yang dapat mati saat ini; akan diubahkan menjadi tubuh, sebelum jatuh didalam dosa, adalah tubuh yang terbuat dari debu tanah + Nafas hidup namun yang sudah tidak dapat mati—tubuh dalam kodrat Ilahi.-seperti pada awal penciptaan, sebelum manusia jatuh didalam dosa.—tidak dapat binasa!

Namun ada perbedaan antara kita dan Petrus. Jika kita tau bahwa kita akan mati sama seperti Petrus. Tapi Petrus, memiliki kelebihian—bagaimana ia akan mati? Kenapa ia bisa tau? Karena Yesus telah memberitahukannya…

 Yohanes 21:18-19 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

Ellen G. White menuliskan sebagai berikut perihal kematian Petrus..

“Petrus, seorang Yahudi dan seorang asing, dihukum dengan dicemeti dan disalibkan. Dalam kesempatan kematiannya yang menakutkan ini, rasul itu teringat akan dosanya yang besar dalam menyangkal Yesus pada saat ujian-Nya… Petrus telah sungguh-sungguh bertobat dari dosa itu dan telah diampuni oleh Kristus, sebagaimana ditunjukkan oleh perintah yang besar yang diberikan kepadanya untuk menggembalakan domba-domba dan anak domba dari kawanan domba itu… tetapi ia tidak pernah dapat mengampuni dirinya sendiri... sebagai hadiah yang terakhir ia memohon kepada algojonya supaya ia boleh disalibkan di kayu palang dengan kepala dibawah. Permintaan itu diperkenankan, dan dalam cara ini matilah Rasul Petrus yang besar itu.

Jadi sekali lagi, Petrus tidak pernah mengajarkan adanya kebakaan roh atau roh gentayangan dan lain sebagainya. Tapi Petrus tau bahwa Ia akan mati, sebagaimana kita juga tau bahwa satu kali kelak entah kapan kita juga akan mati. Namun Petrus yang telah dipercayakan oleh Yesus untuk satu tugas yang besar itu—masih menyempatkan diri untuk mengingatkan domba-domba-Nya untuk tetap setia, tetap beriman didalam Kristus Yesus, Tuhan kita dengan mencapai kasih kepada semua orang—yang tersirat dalam pelajaran kita hari ini. Tuhan memberkati.

Pdt. Franklin Satori

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *