Sebagai seorang penatalayanan kita harus memiliki pengaruh yang baik dimanapun kita berada. Kita harus memiliki pengaruh yang kuat, dan kuasa mempengerahui yang berasal dari Tuhan. itulah sebabnya kita perlu untuk hidup didalam Tuhan. Sehingga kehidupan kita menjadi terang bahkan bagi orang disekitar kita. Mereka akan bertanya kepada kita tentang bagaimana kita bisa menghidupi kehidupan yang sejati yang kita hidupkan didalam Tuhan. Seperti yang ayat berikut ini katakan:

1 Petrus 3:15-16 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

Hidup kudus ataupun menjadi saleh bukan berarti kita sempurna, hanya bahwa kita mencerminkan kesempurnaan dalam lingkup kita sendiri.[1] Penatalayan adalah tentang pengelolaan barang-barang milik Allah, tetapi itu melampaui tanggung jawab ini. Penatalayan kita ditunjukkan kepada keluarga, masyarakat, dunia dan alam semesta.[2]—agar dapat mempengaruhi setiap orang  yang ada disekitar kita untuk mengenal Tuhan yang kita sembah, kita menjadi terang dimanapun kita berada. Sebagaimana kehidupan Ayub bahkan yang dituliskan dalam ayat berikut ini:

Ayub 2:3 Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”

Penatalayanan adalah ekspresi dari kehidupan iman kita kepada Tuhan; dengan kita menghidupkan kehidupan yang berpengaruh bagi orang-orang disekitar kita untuk mengarah kepada kesucian dan kehidupan didalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Disinilah kita belajar untuk dapat mencukupkan dalam segala hal. Penatalayanan ataupun hidup beribadah bukanlah untuk mendapatkan atau memberikan keuntungan finansial tetapi mengajarkan kepada kita untuk dapat bersyukur dan mencukupkan diri dalam segala sesuatu. Perhatikan perkataan Paulus kepada Timotius:

1 Timotius 6:5-7 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

Ibadah itu mengajarkan kita untuk berserah kepada Tuhan. Berserah dalam setiap keputusan terbaik yang Tuhan dapat buat kepada kita semua. Sepeti  yang dikatakan ayat berikut ini:

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Itulah sebabnya kita harus belajar percaya kepada Allah. Percaya untuk segala sesuatu yang dapat kita kontrol dan yang tidak dapat kita kontrol. Kita sering kali berdoa—meminta petunjuk untuk hal-hal yang tidak dapat kita jangkau. Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang bisa kita jangkau? Waktu, keluarga, kebiasaan—pernahkah kita berdoa untuk hal-hal yang bisa kita kontrol, untuk hal-hal yang ada dalam genggaman tangan kita, agar kita bisa menggunakan dengan sebaik mungkin? Seorang penatalayan sejati akan memiliki sebuah moto dalam hidupnya…

Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Ellen G. White juga mengatakan:

Para rasul mengambarkan kepada kita sebuah kepercayaan kepada Allah dengan segenap hati mereka: “Secara alamiah mereka lemah dan tak berpengharapan seperti setiap orang yang tergabung dalam pekerjaan Tuhan, tetapi mereka menyerahkan keseluruhan hati mereka didalam Tuhan. Kekayaan yang mereka miliki, terdiri atas kekayaan pikiran dan jiwa yang berserah; Setiap orang dapat memilikinya, itu adalah bagi mereka yang mau menjadikan Allah sebagai yang pertama, yang terakhir dan yang terbaik dalam segala hal.”—Ellen G. White, Gospel Workers, p. 25

Inilah kehidupan yang diinginkan oleh Khalik pencipta kita. Allah ingin kita menghidupkan kehidupan didalam Tuhan agar kita menjadi terang dimanapun kita berada. Seperti yang dikatakan oleh ayat berikut ini:

Efesus 5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, Matius  5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Kita harus menjadi pengaruh yang baik, pengaruh yang menuntun kepada Tuhan—, disekolah, dirumah tangga, dimasyarakat bahkan dimanapun kita berada.. karena tujuan kita bukan sampai didunia ini saja, tetapi sampai pada kerajaan Surga. Kita harus menentukannya sekarang. Sekolah Sabat kita mengatakan demikian: “Entah kita hidup untuk Allah atau untuk musuh. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan” (Mat. 12:30). Di pihak mana kita berada akan diungkapkan, dengan jelas dan tegas, ketika Dia datang kembali.”[3] Ini semua kita lakukan bukan berdasarkan atas apa yang dapat kita lakukan bagi Tuhan. tetapi karena apa yang Tuhan telah kerjakan didalam kita. Seperti yang Ellen G. White katakan berikut ini:

“Bila para pengikut Kristus mengembalikan milik-Nya kepada Tuhan, mereka mengumpulkan harta yang akan diberikan kepada mereka ketika mereka mendengar perkataan, ‘baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia! Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.’”—Ellen G. White,  Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 140.[4]

Motif dan cara pandang kita menentukan siapa dan ada dipihak mana kita. Iman dan perbuatan kita adalah refleksi bagaimana ungkapan syukur kita atas kasih yang kita rasakan, kasih yang berasal dari milik Tuhan. Kita adalah milik Yesus bahkan semua yang ada pada kita saat ini adalah milik Dia—terpujilah Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan juru selamatku. Saya ingin menutup dengan Tulisan RN berikut ini:

“Orang yang menerima tetapi tidak pernah memberi tidak lama akan berhenti menerima. Kita harus membagikan berkat sorga jika kita mau menerima berkat yang segar.”—Ellen G. White, Nasihat Penatalayanan, hlm. 28.[5]

[1]Pelajaran sekolah Sabat, hari minggu 25 Maret 2018
[2]Pelajaran sekolah Sabat, hari Rabu 28 Maret 2018
[3]Pelajaran sekolah Sabat, kamis 29 Maret 2018, hlm. 154
[4]Pelajaran sekolah Sabat, kamis 29 Maret 2018, hlm. 154
[5]Sekolah Sabat, hari jumat 30 Maret 2018, hlm. 155

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *