Pada pekan ini kita tiba pada bacaan terakhir dari kitab 2 Petrus 3:1-18 dengan perikop dan juga sebagai judul pada sekolah Sabat kita pelajaran ke-12 ini yaitu “HARI TUHAN.” Ada apakah dengan hari Tuhan dan bagaimanakah kita sebagai umat Tuhan wajib bersikap ketika menghadapi hari Tuhan dan juga cemoohan yang ditujukan kepada kita, mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali? Mari kita menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

Menarik dalam 2 Petrus 3:1-18, Petrus memulaikan dengan kata-kata berikut ini:

2 Petrus 3:1-4 Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.”

Saya ingin memulaikan dari kata ‘yang terutama harus kamu ketahui ialah.. akan tampil para pengejek yang akan mengejek kita mengenai, dimana janji akan kedatangan Yesus? Coba lihat semua tetap sama—tidak ada yang berubah bukan? Dan mungkin banyak lagi pertanyaan-pertanyaan tajam yang akan dinyatakan bagi umat percaya. Apa yang harus kita lakukan dalam hal ini? Sebenarnya ini terjawab pada awal perkataan Petrus dalam 2 Petrus 3, “menghidupkan pengertian yang murni—yang berasal dari para nabi-nabi kudus (Kitab Perjanjian Lama) dan juga para rasul (Kitab Perjanjian baru). Kitab Perjanjian Baru adalah kesaksian akan Perjanjian Lama yang menolong untuk meletakkan dasar keabsahan akan Perjanjian Baru.

Petrus juga menambakan bahwa mereka yang menjadi pengejek adalah mereka yang hidupnya menuruti hawa nafsunya—artinya adalah kebalikan, umat Allah yang hidup di akhir zaman—yang akan diejek dan dihina adalah orang-orang yang tidak menuruti hawa nafsunya. Lebih jauh lagi Petrus menyebutkannya dalam:

2 Petrus 3:9-11 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup

Saya menggunakan warna biru untuk memperlihatkan bahwa kita harus hidup dengan penuh pertobatan, menggunakan waktu ini dengan baik—berusaha hidup suci, saleh didalam Tuhan. Apa arti hidup saleh dan suci? Apakah kita hidup menyendiri? Bertapa? Sekolah sabat kita menjelaskan sebagai berikut “apa yang diperingatkan pada perumpamaan itu (Matius 24:43-51) adalah akan lebih mudah menurunkan standar kita, khususnya yang berhubungan dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan menjadi lebih serupa dengan dunia ini dan berkurang setia pada keyakinan kita akan kedatangan Tuhan kita. Artinya adalah selain kita menjaga diri untuk tetap setia kepada Tuhan; kita juga wajib menjalankan kehidupan yang berguna untuk sesama kita manusia.

Dengan sangat jelas Petrus menyebutkan juga bahwa kedatangan Yesus yang kedua kali bukanlah satu keterlambatan atau bahkan kelalaian—tapi itu adalah satu fase dimana kita diberikan kesempatan untuk berbalik dan bertobat agar dapat memiliki kehidupan yang kudus dan saleh.

Salah satu yang menarik juga, Petrus dalam suratnya yang kedua ini—menyebutkan nama Paulus atau tepatnya tulisan-tulisan Paulus sebagai berikut:

2 Petrus 3:15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Perhatikan tulisan berwarna ungu, bukan hanya Petrus, Paulus pun berbicara mengenai hal ini—untuk hidup damai sementara menunggu kedatangan Yesus yang kedua, dan menggunakan waktu untuk mengembangkan kehidupan kudus (Rm. 2:4; Rm. 12:18; Flp. 2:12). Walaupun demikian, juga ada yang memutarbalikkan tulisan-tulisan Paulus. Bagi saya pribadi, sebut saja tulisan Paulus mengenai kasih karunia—bisa saja itu diputar balikkan, bahwa hukum Allah tidak perlu lagi, karena kasih karunia Allah berlimpah ataupun pernyataan yang menyatakan bahwa kita hidup dengan kasih karunia Allah jadi kita tidak perlu lagi hukum Allah ataupun kitab perjanjian baru—tidak demikian!! Apalagi dengan ajaran Paulus mengenai pembenaran oleh iman saja (Rm. 3:21, 22), tetapi ingat tidak ada dalam tulisan-tulisannya yang mengizinkan orang untuk berbuat dosa (Roma 6:1-14). Kita harus hati-hati dalam hal ini, jangan sampai kita mengajarkan hal-hal yang menyesatkan seperti juga yang telah terjadi dijaman Petrus hidup—dimana sudah ada orang yang memeluntir bukan saja tulisan-tulisan Paulus tetapi juga tulisan (GRAFA)—tulisan-tulisan suci yang lain.

Petrus, akhirnya memberikan kekuatan diakhir tulisannya agar kita jangan sampai sesat dan terseret dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum—tapi sebaliknya kita harus teguh pada pengangan kita umat Allah—Kitab Perjanjian lama dan baru/ajaran para Nabi dan Rasul; agar kita tetap bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan dan juruselamat kita—Yesus Kristus.

 

Tuhan memberkati

Pdt. Franklin Satori

geojc14

View all posts

1 comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *