Pelajaran kita pada sabat ini berfokus pada Galatia 3:26-4:20, cukup panjang, namun saya akan coba mengambil hal-hal penting yang perlu kita bagikan dalam kelas-kelas diskusi sekolah sabat kita, beserta beberapa ayat yang 14mungkin cukup membingungkan bagi kita—karena penterjemahannya didalam bahasa Indoensia, sesuai Alkitab. Dan yang digunakan dalam pelajaran sekolah sabat kita. Baik kita mulai saja. Jika saya melihat Galatia 3:26-4:20 dan membandingkan dengan pelajaran kita Saat ini, maka pelajaran kita dapat kita bagi dalam tiga tahap yaitu:

  1. Mengapa kita menjadi waris
  2. Bagaimana menjadi pewaris
  3. Jangan merubah status—Amaran Paulus

Nah itu dapat terjawab dalam ayat-ayat dan pelajaran sekolah Sabat kita berikut ini:

GALATIA 3:26-29 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

Pada waktu yang lalu kita telah mempelajari mengenai

Penuntun—Paidagogos.Gr atau pedagog—yang merujuk kepada seorang budak di masyarakat Romawi yang ditempatkan dalam posisi otoritas atas anak tuannya sejak mereka berusia enam atau tujuh tahun hingga mereka mencapai kedewasaan.[1] Tetapi apabila kita telah memiliki Iman didalam Yesus, telah dipersatukan didalam Yesus—melalui Baptisan, yaitu dalam kematian dan kebangkitan rohani—maka kita dianggap telah mencapai kedewasaan itu sendiri. Artinya adalah kita telah mengerti dan mengenal siapa diri kita, dan siapa yang dapat menyelamatkan kita—karena hukum Allah itu menunjukkan siapa diri kita dan Siapa yang dapat menyelamatkan kita—bukan hukum Allah—tetapi janji Allah-Yesus Kristus.

Paulus memandang baptisan sebagai momen pada saat Kristus, seperti halnya pakaian, menyelubungi orang percaya.—kebenaran dan tindakan Yesus lah yang menyelamatkan kita! Bukan hukum itu sendiri. Dan kalau kita sudah terima Yesus, Janji Allah maka kita juga akan berterimakasih atas hukum Allah yang menunjukkan itu kepada kita. Artinya bila kita meniadakan hukum Allah, bagiamana mungkin kita bisa mengenal Yesus Kristus. Toh juga kita mengerti bahwa hukum-hukum upacara yang dilakukan dalam jaman perjanjian lama—itu juga merujuk kepada Yesus kristus, bukan?

Oleh sebab itu adalah keliru jika kita menginterpretasikan ayat berikut sebagai cara bahwa menyatakan hukum Allah—khususnya hari Sabat, dalam 10 hukum Allah, hukum yang keempat—sudah tidak berlaku karena Yesus sudah datang. Sekolah Sabat kita menyatakan bahwa menggunakan ayat dalam Galatia 4:10 sebagai penolakan atas hukum Allah—Sabat, adalah interpretasi yang sudah melampaui kenyataan.[2]—inilah juga yang akan menjawab bagian yang ketiga untuk jangan merubah Status, tetapi nikmatilah status kita sebagai ahli waris itu—khususnya yang dibahas pada pelajaran sekolah Sabat kita adalah mengenai Sabat.

Galatia 4:9-10  Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.

Saya senang menjelaskan ayat ini bahwa: “jika ketaatan terhadap Sabat hari ketujuh menjadikan seorang sebagai budak, berarti Pencipta sendiri masuk ke dalam perbudakan ketika Dia menguduskan Sabat di dunia.”—The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 967

Artinya adalah kita harus menjadikan Sabat itu sebagai hari kenikmatan. Paulus bukan meniadakan hukum ke-4—dari 10 hukum Allah “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.” Namun dalam hal ini kita mengingat kepada Yesus, bagaimana Yesus menunjukkan bahwa Ia memelihara Sabat dan juga mengajarkan orang lain bagaimana memeliharanya.[3] Markus 2:27-28—hari sabat diadakan untuk manusia, sabat is a gift—ada cara pakainya; Lukas 13:10-16—Berbuat baik (menyembuhkan) pada hari Sabat.[4]

Bagian yang ke2-terakhir. Bagaimana menjadi pewaris? Jelas dengan menjadi anak-anak Tuhan yang “diadopsi.” Itu kita dapatkan karena Tuhan mau “mengadopsi” kita, dalam Alkitab bahasa indonesia, khususnya untuk kitab Galatia 4–kita tidak temukan kata adobsi, namun itu ada dalam terjemahan KJV.

Galatia 4:5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.

Galatian 4:5 To redeem them that were under the law, that we might receive the adoption of sons.

Menarik adobsi ini artinya bukan anak kelas-2 dan lain sebagainya.. adobsi menjamin sejumlah hak istimewa pada saat itu, prosedur hukum di dunia Yunani-Romawi adalah berikut:

  1. Anak angkat menjadi anak sungguh
  2. Orang tua setuju untuk membesarkan anak dengan benar dan menyediakan kebutuhan makan, pakaian, pendidikan dll
  3. Orang tua angkat tidak bisa menyangkal anaknya itu
  4. Anak angkat tidak bisa diturunkan menjadi budak
  5. Orang tua asli tidak ada hak untuk merebut anaknya kembali
  6. Adopsi menetapkah hak untuk mewarisi[5]

Kita telah ditebus dengan Tuhan mengirimkan anak-Nya yang tunggal—sebagai harga dari penebusan kita. Sebelum kita mengetahui siapa juru selamat kita, kita tunduk pada “prinsip-prinsip dunia”—disini Paulus merujuk kepada prinsip-prinsip dasar kehidupan beragama—hukum Allah

 Galatia 4:3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia.

Galatian 4:3 Even so we, when we were children, were in bondage under the elements of the world:

ingat Paidagogos.Gr atau pedagog ? kalau kita belum dewasa, kita perlu diarahkan oleh Hukum Allah kepada Yesus, tetapi ketika kita menerima Yesus, kita tau siapa juru selamat kita dan kita tau dimana letak hukum itu—bukan kepada keselamatan tetapi itu mengarahkan kita untuk melihat kepada Juru selamat. Karena hanya Yesus yang sanggup membebaskan kita. Seperti yang tertulis dalam

 Galatia 4:5-7 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Dari apa kita perlu dibebaskan?

  1. Dibebaskan dari setan dan tipu muslihatnya
  2. Dibebaskan dari kematian ke-2
  3. Dibebaskan dari kuasa dosa yang memperbudak kita
  4. Dibebaskan dari kutukan hukum[6]

Saat ini, saya harapkan kita telah mengerti siapa kita? Siapa juru selamat yang mau membebaskan kita dan peran hukum Allah itu sendiri. Sekarang keputusan ada ditangan Anda!! Tuhan memberkati.

[1]Pelajaran sekolah Sabat, rabu 9 agustus 2017, hlm. 81

[2]Pelajaran sekolah Sabat, kamis 17 Agustus 2017, hlm. 94

[3]ibid

[4]Perempuan yang dirasuki setan 18 tahun sampai bungkuk dan tidak bisa berdiri tegak. Tapi Tuhan sembuhkan.—ada 6 hari untuk kerja, koq hari Sabat? Eh munafik, Yesus bilang, kamu hari Sabat lepas sapi bawa ketempat minuman dan makan—Sabat hari kelepasan, kenikmatan.

[5]Pelajaran sekolah Sabat, hari rabu 16 Agustus 2017, hlm. 93 ilustrasi anak angkat yang diejek-ejek—ibu yang memilih kami

[6]Pelajaran sekolah Sabat hari rabu 16 Agusutus 2017, hlm. 93

geojc14

View all posts

1 comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *