Pada Sabat ini kita akan melanjutkan melihat mengenai perpuluhan, pendistribusiannya, dampak bagi kehidupan kita dan apa artinya bagi kita semua. Saya ingin memulaikannya dengan kita melihat ayat berikut ini:

Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Tiga hal yang penting dari ayat diatas adalah rumah perbendaharaan—kita akan mempelajari dimanakah sebaiknya perpuluhan itu diberikan/diletakkan dan yang kedua adalah “ujilah Aku”—karena Tuhan pasti akan memberikan kepada kita kecukupan bahkan kelimpahan bila kita memberikan persepuluhan—kita akan mempelajari prinsip berkat ganda dari perpuluhan itu sendiri. Mari kita melihat, kutipan pelajaran sekolah sabat kita berikut ini: The first biblical reference to tithing is Abraham’s giving tithe to Melchizedek (Gen. 14:18–20, Heb. 7:4). The Levites also took the tithe for their services at the temple (2 Chron. 31:4–10). Today, the tithe is for the support of the gospel. When rightly understood, it serves as a spiritual measurement of our relationship with God.[1] Oleh sebab itu bagaimana cara kita untuk mengerti akan arti perpuluhan itu? Yang pertama yang perlu kita ketahui adalah perpuluhan digunakan untuk menopang pekerjaan Tuhan sebagai berikut ini: As we have seen, people have been paying tithe since the days of Abraham and Jacob (Gen. 14:2028:22) and probably before. Tithe is part of a system that funds God’s church. It is the greatest source of funding and the most equitable method for carrying out His mission.[2] Lebih tepatnya lagi persepuluhan digunakan untuk para pelayan Tuhan—bukan yang lain! Seperti yang tertulis dalam ayat dan kutipan Roh Nubuat berikut ini:

1 Korintus 9:14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

It is to be especially devoted to the support of those who are bearing God’s message to the world; and it should not be diverted from this purpose.”—Ellen G. White, Counsels on Stewardship, p. 103.

Pertanyaan berikut yang muncul adalah dimanakah kita menaruh perpuluhan kita itu? Sekolah Sabat kita memberikan jawaban yang sangat akurat.  During the time of Solomon, tithe was returned to the Jerusalem temple. The Israelites easily understood what and where the “storehouse” was when the prophet Malachi said to them, “ ‘Bring the whole tithe into the storehouse’ ” (Mal. 3:10, NIV). The storehouse represented the location where religious services took place and from where the Levites were supported.[3] “rumah perbendaharaan”—adalah tempat dimana kita telah dilayani oleh firman Tuhan tersebut. Dan ingat hal ini kita lakukan karena kita percaya akan kebesaran Tuhan, bukan karena kekurangan Tuhan—kita telah mempelajari kemarin bahwa kita yakin bahwa berkat ini dari Tuhan, oleh sebab itu Tuhan memisahkan apa yang menjadi milik-Nya sehingga itu menjadi kudus—karena itu adalah milik Tuhan. Kita harus mau terlibat aktif dalam pekerjaan Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini bukan hanya orang Israel (awam) tetapi orang Lewi (imam) turut membawakan persembahan untuk tidak membiarkan pekerjaan Tuhan ini.

Nehemia 10:39 Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.

Perpuluhan adalah sistem yang telah Allah berikan bukan untuk memperkaya diri-Nya tetapi untuk manusia. memberikan perpuluhan itu adalah berkat—bukan hanya berkat materi saja yang kita telah dapatkan tetapi berkat rohani, firman Tuhan, dimana juga kita perlu berterimakasih untuk itu dan membagikannya. Seperti yang dikatakan oleh pelajaran sekolah Sabat kita : From tithing a double blessing comes. We are blessed, and we are a blessing to others. We can give out of what we have been given. God’s blessings toward us reach inwardly and to others outwardly. “ ‘Give, and it will be given to you. . . . For with the measure you use, it will be measured to you’ ” (Luke 6:38, NIV).[4] Ellen G.  White sendiri mengatakan demikian:

“Sistem persepuluhan yang istimewa ini didirikan di atas prinsip yang abadi seperti hukum Allah. Sistem persepuluhan ini adalah berkat bagi orang-orang Yahudi, jika tidak Allah tidak akan memberikannya kepada mereka. Demikian juga hal itu akan menjadi berkat kepada mereka yang melaksanakannya hingga akhir zaman.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 3 hlm. 404, 405.[5]

Berkat yang dimaksud disini adalah ucapan syukur karena Allah telah menyangupkan kita untuk memberikan persepuluhan. Karena Allah telah memberkati kita, bukan memberikan persepuluhan supaya mendapatkan berkat. Perhatikan kutipan pelajaran sekolah Sabat kita berikut ini yang membandingkan antara persepuluhan dan keselamatan. Salvation comes because the merits of Christ’s own perfect sacrifice are credited to our account. As for the matter of tithe, there is no credit obtained from God by returning it. After all, if the tithe is God’s to begin with, what merit could there possibly be in giving it back to Him?[6] Apalagi bila kita mengatakan setelah memberikan persepuluhan ataupun persembahan.. kalau bukan karena persembahan dan perpuluhan saya.. mana mungkin gereja ini bisa maju!—jangan sampai kita mengatakan hal ini! Kita memberikan persepuluhan karena Allah telah lebih dahulu memberkati kita dan kita mengucap syukur atas berkat ini.. berkat kesetiaan yang Tuhan telah curahkan kepada para pemberi persepuluhan. Seperti yang dikatakan dalam ayat berikut ini:

Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Kita sepenuhnya milik Allah—dalam penciptaan dan penebusan, dan jika kita mau, kita harus menghidupi kehidupan yang memang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kita—kehidupan untuk memuliakan nama-Nya. Saya ingin menutup rangkuman sekolah Sabat ini dengan tulisan hambat Tuhan E. G. White yang menyatakan demikian perihal persepuluhan:

“So it is with God’s claims upon us. He places His treasures in the hands of men, but requires that one tenth shall be faithfully laid aside for His work. He requires this portion to be placed in His treasury. It is to be rendered to Him as His own; it is sacred and is to be used for sacred purposes, for the support of those who carry the message of salvation to all parts of the world. He reserves this portion, that means may ever be flowing into His treasure house and that the light of truth may be carried to those who are nigh and those who are afar off. By faithfully obeying this requirement we acknowledge that all belongs to God.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 6, p. 386.[7]

Tuhan memberkati

[1]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN
[2]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN
[3]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN
[4]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN
[5]Pelajaran Sekolah Sabat, Senin 19 Februari 2018, hlm. 91
[6]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN
[7]https://absg.adventist.org/html?code=ADLT1Q18WK08LESN

geojc14

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *